ASIAN GAMES 2018: Sportivitas Indonesia

391
Maskot Asian Games 2018 Bhin-Bhin (kiri), Atung (tengah) dan Kaka (Kanan) menyapa masyarakat saat hari bebas kendaraan bermotor di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (11/3). Ketiga maskot tersebut menyapa masyarakat dalam rangka sosialisasi Asian Games 2018 yang akan digelar pada 18 Agustus 2018 mendatang. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc/18.

Perhelatan akbar dunia olahraga di kawasan Asia tinggal sekitar sebulan lagi. Event yang diselenggarakan di Jakarta dan di Palembang, Indonesia ini akan diikuti oleh atlet-atlet dari 45 negara untuk memperebutkan medali emas, perak dan perunggu dari 40 cabang olahraga.

Indonesia menjadi tuan rumah untuk kedua kalinya setelah sebelumnya menyelenggarakan pesta olahraga yang sama di tahun 1962. Event ini akan berlangsung selama 2 minggu, sejak pembukaan pada 18 Agustus 2018 sampai waktu penutupan pada 2 September 2018.

Indonesia, khususnya Jakarta dan Palembang sedang “berdandan” secara besar-besaran, memperbaiki sarana-sarana olahraga maupun infrastruktur jalan sekitarnya. Diharapkan sebelum waktu kedatangan para kontingen dari luar negeri, Jakarta dan Palembang telah siap secara sempurna untuk menyambut mereka.

Kita sebagai masyarakat Indonesia pun ikut dalam semangat “Energy of Asia” yang menjadi jargon Asian Games kali ini, mengingat sehari sebelum waktu pembukaan juga menjadi Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke 73 tahun.

Semangat para atlet untuk berlatih dan bertarung untuk mempersembahkan yang terbaik untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia harus kita dukung dan apresiasi, bukan hanya dengan ikut menonton langsung pertandingan tetapi juga dengan menumbuhkan jiwa sportivitas dan kerja keras secara berkesinambungan.

Baca Juga: Olahraga, Politik, Dan Nasionalisme

Dalam 73 tahun Indonesia, masih belum terlalu banyak pencapaian-pencapaian bersama sebagai bangsa di dunia internasional. Mungkin kita bisa bangga atas prestasi para atlet yang berlaga di lapangan bulu tangkis, atau sepak bola, atau yang lainnya, namun kita masih harus prihatin atas pemberitaan negatif tentang Indonesia.

Pada Mei lalu, warga internasional mengutuk pelaku bom bunuh diri yang menyasar rumah ibadah dengan mengikutsertakan anak-anak. Belum lagi perihal tenun kebangsaan yang terkoyak akibat diskriminasi SARA pada sesama. Masyarakat Indonesia harus berintrospeksi untuk memperbaiki diri.

Baca Juga:  Pilpres 2019: Kerawanan, Ancaman dan Strategi Penanganannya

Alih-alih menebar kebencian karena perbedaan, seharusnya kita bisa bersaing secara sehat dalam pertandingan olahraga atau olimpiade sains. Hal yang seperti ini lebih berguna untuk menyalurkan adrenalin yang tinggi ke arah yang positif.

Kita mendapatkan medali, dan tentu hadiah berupa uang dan barang, dan juga kita pasti akan mengharumkan nama Indonesia dalam dunia internasional.

Indonesia seharusnya bukan cuma terkenal akan wilayahnya, seperti Raja Ampat, Wakatobi, Pulau We, Pulau Bali, Labuan Bajo, dan lain sebagainya seolah tidak ada manusia yang menghuni tempat-tempat tersebut. Masyarakat Indonesia berkewajiban membela keberadaan Indonesia dengan prestasi dan pengakuan dunia.

Baca Juga: Jokowi Terus Galakkan Promosi Asian Games 2018

Bangsa Indonesia pada masa lalu adalah kumpulan para pemikir yang disegani. Sebut saja Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, RA Kartini, Soedirman, Agus Salim dan lain sebagainya yang telah membuat kagum warga dunia dengan tulisan-tulisan serta strategi-strategi mereka di berbagai bidang.

Namun mengapa, semakin menua usia Indonesia semakin sedikit putra-putrinya menorehkan kebanggaannya bagi Ibu Pertiwi?

Alasannya adalah kesibukan masing-masing dari kita untuk memperdebatkan masalah, alih-alih mencari solusi. Kita juga sibuk untuk saling menunjukkan siapa yang salah, dan luput untuk mengintrospeksi diri sendiri.

Walhasil, kita akan mencari kambing hitam, entah warga asing yang dipekerjakan untuk mempercepat pembangunan Indonesia, entah pemerintah yang kemudian disudutkan dengan berbagai fitnah, bahkan juga kepada sesama.

Menunjuk jari kepada orang lain jelas bukan tindakan yang solutif atas masalah yang ada. Apalagi, kalau kita sendiri sebenarnya berkontribusi dalam kemunculan masalah tersebut.

Misalkan, ketika kemiskinan melanda kehidupan kita karena tidak bekerja dan hanya mengharap subsidi, maka sumber masalah kemiskinan it adalah diri kita sendiri. Bukan orang Cina, bukan pemerintah yang tidak memberikan subsidi, dan pastinya bukan Tuhan yang menjadikan kita miskin.

Baca Juga:  Internalisasi Moralitas Dasar

Toh pada kenyataannya Tuhan sudah berjanji mengubah nasib manusia ASALKAN manusia tersebut berupaya untuk mengubah nasibnya sendiri. Jadi, tinggal bagaimana kita berusaha dengan sekuat tenaga untuk menggapai cita-cita, ikhlas dalam berusaha dan sungguh-sungguh dalam berdoa.

Demikianlah para pejuang memerdekakan Indonesia, demikianlah para atlet berupaya sekuat tenaga mengharumkan nama Indonesia, demikian pula seyogyanya kita memberikan kontribusi terbaik sebagai warga negara Indonesia.

Energi Asia ada di Indonesia. Mari bersama-sama menggali potensi terbaik dari diri masing-masing untuk dipersembahkan bagi Indonesia. Mari tunjukkan keberadaan Indonesia sebagai pusat peradaban dunia modern; tempat para intelektual, tempat manusia-manusia beradab, tempat orang-orang yang bertarung dan hidup dalam sportivitas.