Keteladanan Muhammad terhadap Kekuasaan Wilayah Umat Muslim

329

Judul Buku : Muhammad : Sang Pewaris Hujan

Penulis : Tasaro G.K

Penerbit : Bentang Pustaka

Cetakan : Pertama, Januari 2016

Tebal : 592 Halaman

ISBN : 978-620-291-135-7

Pada novel ketiga Muhammad ini, Sejarah telah sampai pada penyebaran Islam ke luar Jazirah Arab, diantaranya Mesir. Tasaro menggambarkan dengan indahnya setiap perjalanan pasukan Muslim dalam misi mensyi’arkan Islam ke wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan di Madinah. Dengan pendekatan humanis dalam menggambarkan sejarah Islam, novel ini mampu menunjukan dengan fasih bahwa alasan “penaklukan” wilayah oleh pasukan Muslim semata-mata bukan karena nafsu berkuasa. Tetapi juga atas permintaan dari penduduk daerah taklukan yang telah lama dizholimi oleh penguasa yang ada. Bahkan saat penaklukan terjadi, pasukan Muslim mendapatkan bantuan dari penduduk daerah tersebut. Maka muncul dua term yang akan membuat pembaca merenung setelah membaca sejarah Islam melalui novel ini.

Cerita ini dibuka Perjalanan Kashva semakin rumit. Lelaki ini punya identitas baru di kehidupan yang sama sekali baru. Ia berkelana ke negeri-negeri yang lebih jauh. Dan sayangnya kehilangan keyakinan dan tujuan. Ia tidak melanjutkan pencarian terhadap Astu, rekan perempuannya saat ia masih belajar di Istana. Malah, ia berkenalan dengan seorang pemuda muslim, yang membuatnya banyak bertanya tentang agama Islam. Sementara itu, Astu, setelah bertahun-tahun berada di lingkungan yang asing, melanjutkan perjalanan melintasi negeri-negeri untuk menemukan Kashva.

Sayangnya, ia kehilangan jejak, sehingga ia akhirnya kembali ke Persia dan membangun rumah kurir. Denjgan ini, ia berharap ada seseorang yang ia kenal dari masa lalu yang kembali bertemu dirinya. Entah itu kerabatnya, atau Kashva. Pada akhirnya, memang ada orang-orang yang mengenal Kashva yang bertemu dengan dirinya, tapi pertemuan-pertemuan itu tidak mengantarkan Astu lebih jelas akan keberadaan Kashva. Ada beberapa bagian yang membuat gemas dan menyebalkan, misalnya bagaimana Astu sampai di tempat yang pernah Kahva singgahi bertahun-tahun sebelumnya, atau ketika Kashva mulai membangun identitas barunya, dan ada beberapa bagian lain yang menyebalkan.

Baca Juga:  Mencapai Indonesia Merdeka

Dan bagian perkembangan Islam menceritakan tentang khalifah baru; Umar. Bagaimana di masa ini Al-Qur’an mulai dibukukan. Beliau juga mengadakan invasi ke berbagai daerah; melebarkan ekspansi Islam ke berbagai penjuru dunia. Banyak perang di berbagai negara, dan berkali-kali pasukan Muslim menang dan berhasil menaklukan negara yang dituju, Islam jadi berkuasa dimana-mana.

Angle lain yang sangat jelas diangkat Tasaro dari rangkaian penaklukan atau pembebasan yang dilakukan oleh umat Muslim bukan pada kehebatan sang panglima atau taktik perang yang jitu, melainkan bagaimana penaklukan yang beradab. Bahwa Islam mengajarkan nilai-nilai yang luhur. Saat berperang tidak diperkenakan membunuh para wanita, anak-anak, orang tua, tabib, pemuka agama, penduduk yang tidak ikut berperang, tidak menebang pohon, merusak rumah ibadah manapun. Pasca perang pun tidak diperkenakan mengusik ibadah pemeluk agama lain serta melindungi mereka dari gangguan pihak lain.

Telah diungkapkan sebelumnya, bahwa novel ini terdiri dari dua cerita. Pertama adalah sejarah yang benar-benar ada dan kedua adalah fiksi. Menjadi cukup riskan ketika tokoh yang benar-benar ada bertemu dan berinteraksi pada sebuah alur cerita.

Menilai Tasaro GK menulis Muhammad dalam novel sejarah, bukan novel agama, dan biografi melainkan merangkai kepenulisan fiksi sejarah. Dengan banyak ulasan teologi dan bumbu kisah menarik. Segala hal diceritakan dengan sopan, dengan pantas, dengan tidak menyinggung suku, agama, dan rasa manapun. Ending cerita ini bisa menyenangkan atau tidak tergantung dari sudut pandang pembaca. Menyenangkan, karena dengan ending yang menggantung kemungkinan besar ada lanjutan dari novel ini. Semangat berdakwah dan meluruskan jalan yang kian indah.