Nusantara ini, beragam suku, bahasa, agama dan kepercayaan. Semua hidup dalam harmoni antara tuntunan dan tuturan yang dikemas dalam kebudayaan Nusantara yang eksotis dan estetik. Semua orang melihatnya sebagai surga yang terhampar di dunia. Semestanya yang indah, sejuk, ijo royo-royo, teduh dan mendamaikan.
Melihat Indonesia kita, tentu melihatnya atas keseluruhannya, tidak sekedar melihat umat Islam sebagai yang mayoritas. Kekuatan ikatan senasib, ikatan satu tekad yang kemudian membentuk negara. Melepas diri dari dominasi satu agama (Islam) sebagai yang tunggal dalam mengatur negara, namun bukan berati itu tengah meninggalkan keberlakuan hukum Allah SWT.
Dalam Islam pun, ada banyak mazhab, baik dalam paham ushuluddin (pokok agama, akidah dan tauhid), maupun dalam bahasan furuiyyah (hukum Islam, fikih dan pemikiran hukum Islam). Islam secara ideologis tidak sebagai buatan manusia bernama Muhammad SAW semata, tetapi Islam sebagai agama karena itu bersumber dari kalamullah (wahyu Allah SWT). Artinya, Allah SWT yang membuat ( ما شرع به الله ) dan itu pulalah melampaui ide manusia. Lalu bagaimana Islam dilihat sebagai ajaran yang utuh (sempurna)? Ini yang bisa dipahami sebagai keluasan ajaran dalam Islam.
Dalam kitab al-Risalah al-Laduniyah (hal: 244), Hujjatu al-Islam Imam al-Ghozali telah menggariskan pandangan agama dengan benar dan luas, kesempurnaan Islam justru terletak pada keluasannya.
و اهل النظر في هذا العلم يتمسكون اولا بايات الله تعالى من القران ثم باخبار الرسول صلى الله عليه و سلم ثم بالدلاءل العقلية و البراهن القياسية
Maksudnya bahwa ahli nalar dalam ilmu akidah ini pertama kali berpegangan dengan ayat-ayat Alquran, lalu dengan hadis-hadis Rosulillah SAW dan terakhir dengan dalil-dalil rasional serta argumentasi yang analogis (terukur).
Imam kita, Mujtahid Mustaqil al-Imam Muhammad bin Idris al-Syafei sudah mengantarkan paham kepada kita, pemahaman atas sumber ajaran agama, ia mengatakan:
قال الشافعي رضي الله عنه: جميع ما تقوله الامة شرح للسنة و جميع السنة شرح للقران. و جميع القران شرح اسماء الحسنى و صفاته العليا و كما انه افضل من كل كلام سواه فعلومه افضل من كل علم عداه
Telah berkata: semua yang diucapkan (ijtihad atau fatwa) para imam itu adalah penjelasan dari sunah (hadis), dan semua sunah adalah juga penjelasan dari Alquran.
Alquran sebagai sumber utama dalam Islam secara parsial yakni bahasan tentang hukum Allah SWT itu kita kenal sebagai al-Dalail al-Tsubuti, yaitu ketetapan hukum yang sudah menjadi taklif atas seorang muslim yang mukalaf. Karena isi Alquran tidak semata tentang hukum taklifi, melainkan tentang qishoh (riwayat), al-wa’du (janji), al-wai’d (ancaman) dan lain sebagainya.
Imam Abi Bakr al-‘Arobi dalam kitab Qonun al-Ta’wil telah menjelaskan bahwa di dalam Alquran ada kandungan banyak ilmu, di samping ketentuan-ketentuan hukum Allah SWT ( ايات الاحكام ).
:ذكر القاضي ابو بكر بن العربي
ان علوم القران خمسون علما و اربعماءة و سبعة الاف علم و سبعون الف علم على عدد كلم القران مضروبة في اربعة
Semua kumpulan ilmu di dalam Alquran tersebut masih menurut al-‘Arobi juga dikumpulkan secara garis besar ke dalam 3 bagian, yaitu: pertama, tauhid yang berisi pengetahuan tentang makhluk Allah, dan pengetahuan tentang Allah sebagai sang kholik (pencipta). Kedua, tadzkir yang berisi tentang al-Wa’du, al-Wai’d, Jannah, Naar, sifat- sifat yang tampak dan yang meta. Ketiga, ahkam yang berisi al-Manafi’, al-Madlorru, al-Amr, al-Nahyu dan al-Nadbu.
Sumber kedua ajaran Islam adalah Hadits atau al-Sunnah, tentunya hanya hadis shoheh yang dijadikan dalil atas hukum haram, halal, sunah dan mubah, makruh. Tetapi kedudukan hadis meskipun bukan shoheh bukan berarti tidak berlaku untuk sebagai amaliyah dalam agama, selama sanad dan matannya benar-benar dari Rasulullah SAW. Kalaupun dloif jika itu adalah kebaikan tidak tertutup untuk kemudian jadi pertimbangan bukan pegangan pokok.
Imam Ibnu Hajar al-‘Asqolani dalam kitabnya al-Qoul al-Musaddad sebagaimana juga mengutip pandangan Imam Ahmad RA menjelaskan satu pandangan keluasan ajaran Islam, meski itu bersumber dari hadis dloif.
اذا روينا في الثواب و العقاب و فضاءل الاعمال تساهلنا في الاساند و تسامحنا في الرجال و اذا روينا في الحلال و الحرام و الاحكام تشددنا في الاساند و انتقدنا في الرجال
Ini dimaksud bahwa jika berkait dengan keutamaan pahala dan untuk menghindari siksa serta amal perbuatan yang baik dan utama, dalam hal tersebut bisa diambil dari beberapa hadis yang belum shoheh, meskipun itu dikatakan dloif.
Keluasan ajaran Islam tidak terhenti pada 2 pedoman utamanya. Terdapat ijma’ sebagai keputusan bersama ulama. Ijma’ sebagai pedoman berikutnya setelah hadis. Ketentuan ijma’ itu pun juga berdasarkan petunjuk dari Alquran di surat Yusuf (ayat 15). Sedangkan ketentuan qiyas pun sebagai sumber dalam ajaran Islam itu berdasarkan Alquran surat al-Maidah (ayat: 90).
Soal bid’ah, kita memahaminya sebagai yang keluar dari syariat ( ما يخالف الشرع ) tidak dikatakan bahwa adat atau tradisi selalu disebut bid’ah, sebab adat tidak dalam posisi sebagai sumber syariat. Imam Ibnu Hajar al-Asqolani menegaskan posisi bid’ah.
و المراد بقوله صلى الله عليه و سلم كل بدعة ضلالة, ما احدث و لا دليل له من الشرع بطريق خاص و لا عام
Jadi, yang dimaksud bid’ah sebagai kesesatan adalah sesuatu yang baru dalam syariat tanpa ada dalil, baik secara khusus apalagi umum.
Dengan begitu, Imam al-Syafei membagi bid’ah dalam 2 bagian, yakni bid’ah mahmudah dan bid’ah madzmumah. Bid’ah mahmudah itu selalu menyesuaikan sunah dan bid’ah madzmumah selalu ditentang sunah, hal itu tercela.
قال الشافعي ; البدعة بدعتان محمودة و مذمومة فما وافق السنة فهو محمود و ماخالفها فهو مذموم
Kesimpulannya bahwa kita muslim yang hidup di bumi Nusantara ini tentunya ada kekhasan tersendiri. Dengan latar belakang adat dan tradisi yang multikultur tentunya pengamalan ajaran Islam tidak harus merusak kearifan lokal, sebab datangnya Islam adalah rahmatan lil alamin. Adat punya hukumnya sendiri, dan Islam tidak sebagai ajaran yang keras menolak adat baik. Selama adat dan tradisi yang dipandang baik oleh kaum muslim, maka baik juga di mata Allah SWT.
ما جاء من المسلمين خيرا فهو عند الله خير
Penutup, uraian ini sebagai “mata” yang melihat sebuah fenomena agama dan kebudayaan yang tercipta harmoni, maka ajaran Islam adalah penguat harmoni tersebut.
Wakil Ketua PW Ansor Banten
Menyukai ini:
Suka Memuat...