Connect with us

Opini

Buruh dan Keadilan Sosial

Published

on

Buruh merupakan penanda dunia modern. Dunia yang kemudian mengecualikan buruh. Menghempas buruh dalam strata sosial paling bawah. Selama beratus tahun, buruh hidup di dalam kemiskinan. Upah yang sangat rendah, berkebalikan dengan jam kerja yang sangat tinggi.

Ironisnya, peradaban dunia modern dibangun dari tenaga dan keringat buruh. Dari barang kecil remeh-temeh sampai gedung pencakar langit. Dari kedai makan pinggir jalan, sampai restoran super mewah, makanan diolah dan disajikan para buruh. Selama beratus tahun, hidup buruh tak beranjak baik. Buruh menjadi bagian yang “bukan bagian” di dalam masyarakat. Tenaganya dengan mudah ditukar-ganti.

Buruh tumbuh dan berkembang dalam ragam kerja. Dari hubungan produksi barang, sampai jasa pelayanan. Jumlah buruh terus bertumbuh, sebagai penanda kemajuan dunia modern. Namun, sebagai penopang dunia modern, buruh masih terpinggirkan. Sampai hari ini kaum pekerja dan buruh , secara sosiologis masih belum mampu mengubah nasibnya sebagai kelompok sosial pinggiran. Kelompok sosial yang hidup dengan upah minimal.

Gerak zaman mengubah buruh. Buruh bukan lagi sekadar para pencari upah rendah. Buruh menjadi kekuatan politik yang sangat penting. Suara buruh menjadi penentu kepemimpinan. Buruh memiliki serikat, bahkan partai politik. Suaranya menentukan kebijakan publik. Melalui politik, buruh sedang memperjuangkan keadilan sosial. Suatu cita-cita yang dipancangkan para pendiri bangsa. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tanggal 1 Mei merupakan penanda bahwa buruh adalah kelompok sosial yang sangat penting. Hari yang mesti diingat bahwa kesejahteraan buruh adalah perjuangan milik semua orang. Bukan hanya milik buruh. Kesejahteraan buruh adalah juga kesejahteraan sosial. Dengan demikian kesejahteraan buruh adalah penanda hadirnya keadilan sosial!

Selamat Hari Buruh 1 Mei 2019!

Advertisement

Popular