Connect with us

Opini

Eksperimentasi Muscab PKB Serentak

Published

on

(Foto: Istimewa)

Musyawarah Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tingkat kabupaten/kota se-Indonesia digelar secara serentak. Muscab PKB Serentak ini dibuka oleh Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Gus AMI) secara virtual. Tahap awal Muscab adalah menetapkan Ketua dan Sekretaris Dewan Syuro, serta Ketua Tanfidz, Sekretaris, dan Bendahara.

Sebelumnya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) telah menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) pada 9 Januari 2021 secara virtual dan serentak di 34 provinsi seluruh Indonesia. Muswil serentak digelar dalam dua sesi. Sesi pertama digelar tanggal 9-10 Januari 2021 dan diikuti oleh 19 DPW PKB. Sesi kedua digelar pada 16-17 Januari 2021 yang diikuti oleh 15 DPW PKB.

Muscab PKB serentak sebagai bagian dari menata struktur pengurusan tingkat daerah periode 2021-2026. Selain itu, Muscab PKB Serentak juga digelar untuk melakukan penyeragaman masa bakti kepengurusan di semua tingkatan.

Muscab PKB Serentak adalah ajang konsolidasi, bukan kontestasi ataupun kompetisi. Muscab PKB Serentak menandai proses demokrasi internal PKB. Harapannya, Muscab tak hanya sekadar regenerasi, melainkan sebagai ajang evaluasi. Muscab PKB Serentak adalah upaya penyempurnaan kepengurusan yang memang sangat perlu dilakukan PKB.

Muscab PKB Gaya Baru: Dinamika, Friksi, dan Konflik

Seperti diketahui, dalam Muscab PKB kali ini menggunakan “Eksperimentasi Gaya Baru”. Dalam Muscab, surat keputusan terkait kepengurusan dari DPP PKB dibacakan Pimpinan Sidang di masing-masing lokasi. Ya, keputusan siapa yang menjadi pengurus baru, tentunya ada di tangan DPP. Namun, itu juga berdasarkan kompilasi-kompilasi: adanya pramuscab, usulan dari bawah, evaluasi kinerja pengurus di semua tingkatan dengan tolok ukur berbasis kinerja, pembentukan pokja, usulan dan masukan sejumlah kiai NU, dan persetujuannya tentunya DPP yang memutuskan.

Terkait dinamika, friksi, dan konflik dalam setiap pemilihan terutama Muscab, itu hal yang biasa dan lumrah, ada beberapa daerah “kondusif” bahwa hasil putusan dari DPP bisa diterima baik di kabupaten dan kota. Dan ada beberapa daerah kabupaten/ kota yang “tidak kondusif”, misal kader PKB protes karena pemilihan Ketua DPC tidak sesuai akar rumput atau kepengurusan di tingkat bawahnya.

Terkait hal tersebut, tentunya tak urung menguji kesahihan kedudukan PKB akan semakin menjadi sebuah partai politik yang semakin dewasa. Dinamika, friksi, ataupun konflik adalah gejala yang “serba hadir”. Apalagi terkait suksesi kepemimpinan, ada banyak kepentingan yang bersifat manifes ataupun laten di dalamnya. Dinamika, friksi, ataupun konflik dalam suksesi kepemimpinan tidak bisa dihilangkan, ia hanya bisa dikelola ke arah yang produktif. Sekeras apa pun konflik mesti diupayakan tidak merusak sistem dalam partai politik tersebut. Dengan posisi mampu mengelola dinamika, friksi, ataupun konflik tersebut, nantinya PKB sebagai parpol masa depan akan semakin diinginkan publik, tak lagi sekadar hanya diposisikan sebagai bagian dari infrastruktur politik tapi menjadi kanalisasi utama aspirasi masyarakat.

Bagi penulis, dinamika, friksi, ataupun konflik di setiap suksesi kepemimpinan dalam hal ini muscab PKB tak harus diteropong sebagai sebuah fase penurunan kredibilitas demokrasi PKB. Namun, justru harus diletakkan sebagai bagian dari transformasi demokrasi yang semakin menuju “matang” sekaligus sebagai tahapan konsolidasi PKB.

Baca Juga:  Menyoal Hegemoni Politik dan Ekspansi Ekonomi China Di Kancah Global

Institusionalisasi PKB

Dalam konteks PKB sebagai partai politik, memang harus diakui bahwa terdapat beberapa dimensi esensial dalam kerangka institusionalisasi PKB, yaitu: stabilitas dalam kompetisi eksternal maupun internal PKB. PKB sebagai sebuah partai politik harus memiliki akar yang stabil di masyarakat, legitimasi PKB sebagai parpol dan pemilu, serta aturan dan struktur yang stabil. Derajat institusionalisasi PKB sebagai parpol juga dapat digunakan untuk menentukan kualitas konsolidasi demokrasi dalam tubuh PKB.

Jika meminjam analisis dari Larry Diamond, konsolidasi parpol dapat terlaksana manakala mayoritas masyarakat dan elemen-elemen dalam tubuh PKB sebagai sebuah parpol tersebut meyakini kesahihan aturan main dalam tubuh PKB dan kedudukan penting PKB dalam sistem demokrasi konstitusional. Dinamika ataupun friksi yang terjadi dalam setiap muscab sejatinya lebih banyak melanda di tubuh elitee PKB dan tak begitu signifikan berimbas di kalangan akar rumput. Maka, sejatinya ruang untuk dapat dilakukan konsolidasi demokrasi di internal PKB masih sangat terbuka. Tak dapat dipungkiri pula, bahwa kerja PKB sebagai sebuah parpol masih sangat ditentukan oleh subjek-subjek yang menjadi pendukung struktur PKB.

Dalam pandangan Jacques Lacan, subjek hanya dapat dikatakan sebagai subyek dengan menerima kenyataan bahwa seluruh rangkaian tindakannya didasari oleh hasrat. Keterpecahan dan disintegrasi merupakan kondisi ontologis subyek secara konstitutif. Dengan demikian, sebagai institusi masyarakat harus pula diakui bahwa PKB sebagai parpol tak dapat dibentuk secara total, karena didukung oleh subjek- subjek yang menopang struktur dan fungsi PKB tersebut.

Dinamika, friksi, ataupun konflik dalam suksesi kepemimpinan sering tak terhindarkan, adakalanya terjadi kondisi retak, berubah dan mengalami disintegrasi. Namun, kondisi tersebut harusnya diselesaikan. PKB sebagai sebuah parpol “keren”, ruang dan peluang untuk merekatkan kembali keretakan di tubuh PKB akibat friksi eliteis yang dialami institusi parpol selalu sangat terbuka lebar. Seperti diketahui, tujuan dari eksistensi PKB sebagai sebuah parpol sebagaimana digariskan dalam UU Parpol tersebut harus dilaksanakan melalui fungsi parpol yang semakin mampu menjadi kanal aspirasi masyarakat pemilihnya dan sekaligus mampu menjembatani beragam kepentingan negara dan masyarakat.

Dwight Y King pernah menyatakan bahwa peran utama parpol terbagi menjadi tiga macam, yaitu: (1). Memberikan jembatan institusional antara warga negara dan pemerintah; (2). Menggodok dan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang ditawarkan kepada rakyat pemilih dan untuk dilaksanakan oleh pemerintah hasil pemilu; dan (3) Jalur bagi proses kaderisasi dan seleksi politisi untuk mengisi jabatan publik.

Sementara itu, James Rosnau lebih menekankan pada fungsi parpol sebagai sarana penghubung antara berbagai macam kepentingan dalam suatu sistem politik. Dalam hal ini, menurutnya ada dua peranan penting parpol dalam linkage politik, yaitu pertama, sebagai institusi yang berfungsi penetratif (penetrative linkage/hubungan erat), dalam arti sebagai lembaga yang ikut memainkan peranan dalam proses pembentukan kebijakan negara. Dan kedua, sebagai ”reactive linkage (hubungan interaksi),” yaitu lembaga yang melakukan reaksi atas kebijakan yang dikeluarkan oleh negara.

Baca Juga:  Urgensi Pelayanan Bantuan Hukum Desa Di Banyuwangi

PKB sebagai Parpol tak boleh menjadi institusi yang justru menjadi arena terjadinya dehumanisasi dan alienasi terhadap para subyek di dalamnya. Kembali berkaca pada analisis Larry Diamond, terdapat korelasi yang erat antara konsolidasi demokrasi di tubuh parpol dan penguatan serta perbaikan demokrasi di tubuh parpol. Pola institusionalisasi PKB dalam kerangka demokrasi konstitusional yang dibangun harus terus dilakukan untuk mencapai tingkat kematangan politik yang tinggi dalam tubuh PKB.

Institusionalisasi PKB yang menjadi prasyarat untuk melaksanakan konsolidasi demokrasi dalam tubuh PKB merupakan proses pemantapan baik secara struktural dalam rangka memolakan perilaku maupun secara kultural dalam memolakan sikap dan kultur-politik di tubuh PKB. Dalam tataran kehidupan demokrasi yang lebih luas, friksi yang terjadi dalam setiap suksesi kepemimpinan dapat dijadikan momentum untuk mengonsolidasikan relasi struktural antara parpol dengan parlemen, relasi konstituensi PKB dengan pemilih dan relasi parpol dengan ideologi yang diyakini sebagai fondasi kultural PKB.

Perlu diingat! Kegagalan dalam memaknai momentum ini akan berujung pada delegitimasi dan pembusukan PKB dari dalam tubuhnya sendiri. Sadar atau tidak, dinamika ataupun friksi tersebut telah menggerus dan menguras tenaga, waktu, dan pikiran. Perlu dipahami, bahkan dalam pelbagai hal, dinamika, friksi, ataupun konflik internal hampir mengubur eksistensi beberapa partai politik ke titik nadir. Dinamika, friksi, ataupun konflik bisa berbahaya. Jika tidak segera dilakukannya rekonsiliasi total. Perdamaian dan persatuan sangatlah vital bagi PKB. Partai yang tidak konflik saja masih harus berjuang meraih simpati masyarakat, apalagi yang bisa diharapkan dengan partai yang terpecah.

Masyarakat akan lari dari partai yang setiap hari hanya mempertontonkan perkelahian. Masyarakat akan mendukung partai yang solid dan menjalankan program kerakyatan. Tentunya, dibutuhkan komunikasi intensif antar pengurus. Yang dipilih tentunya tidak jumawa dan yang belum dipilih harus lapang dada dan bersikap ksatria. Yang dipilih dan yang belum dipilih bisa saling menghormati.

Semoga, nakhoda-nakhoda baru yang dilahirkan Muscab kemarin, adalah figur-figur yang pandai mengelola organisasi, kecintaannya pada organisasi, mempunyai keinginan dan mampu meluangkan waktu sebesar-besarnya pada partai, dan mesti selaras dengan harapan konsolidasi PKB.

Tantangan Pemilu 2024

Dalam hasil peneliteiannya, Alvara Research Center, mengungkapkan ada Tiga tantangan utama yang sedang dihadapi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ke depan. Pertama, struktur demografi Indonesia. Kedua, munculnya kompetensi baru berbasis revolusi industri 4.0. Ketiga, tantangan tren intoleransi dan radikalisme.

Tantangan Pemilu 2024 sangat berat. Tentu harus ada beberapa strategi dan pola baru yang harus diadopsi PKB untuk mampu keluar sebagai pemenang, atas dasar itu diperlukan pengurus-pengurus yang siap bekerja keras, dan kerja cerdas. Jika Muscab PKB serentak hendak dibawa ke arah yang lebih strategis dan luas, ada banyak kebutuhan khusus bagi PKB. Sebab, PKB sesungguhnya tengah menghadapi gelombang perubahan besar di masyarakat.

Setidaknya target tersebut harus menjadi sumber motivasi bagi elitee, kader, dan simpatisan dalam membangun kembali kejayaan PKB. Menurut penulis, ada beberapa langkah yang harus dilakukan adalah dengan:

Baca Juga:  Belajarlah Seperti Joko Widodo

Pertama, Peremajaan Politik, regenerasi elitee dalam organisasi politik adalah sebuah keniscayaan. Ini tentu mesti ditunjang dengan sistem kaderisasi PKB yang integral, intensif, efektif, dan efisien. PKB harus berani mengisi jabatan- jabatan strategisnya dengan kaderkader muda yang lebih segar dan bertenaga. Dan PKB juga tak boleh lupa pada konstituen tradisionalnya, yakni kalangan NU.

Kedua, PKB harus berevolusi menjadi partai terbuka. Tidak selamanya elitee- elitee di partai harus mendapat privilese dalam promosi dan mobilitas vertikal kekuasaan. PKB perlu menghidupkan kembali kanal-kanal kaderisasi dan rekrutmen kader. Selain itu, PKB juga harus membuka diri terhadap kader lintas keilmuan, dan memasukkan lintas keahlian. Hal ini untuk menjawab tantangan di era digitalisasi.

Ketiga, Soliditas PKB sebagai sebuah parpol menjadi kunci utama. Maka harus “solidkan gerak satu langkah dari atas sampai ke bawah”. Konsolidasi PKB bertujuan untuk menyamakan persepsi mengenai agenda setting partai kedepannya. Penyamaan persepsi ini diidentikkan dengan penanaman nilai-nilai fatsun ideologis kepartaian. fatsun ideologis kepartaian merupakan alat pemersatu, landasan berpikir dan spirit perjuangan politik yang dipandang penting sebagai suatu identitas partai politik

Keempat, PKB ke depan tuntutan terhadap perjuangan dan komitmen gagasan dan ide kekinian harus dibumikan. PKB harus punya gagasan update untuk mengambil peran sentral dalam setiap isu-isu. Gagasan-gagasan tersebutkan dimanifestasikan secara konkret ke dalam bentuk program-program prioritas yang secara koheren sejalan dengan semangat revitalisasi organisasi, transformasi modern, dan pengunaan platform digital, seperti: ‘PKB Academy’, ‘Gerakan PKB Bersih’, ‘Pilkada 2024 Tanpa Mahar’, ‘PKB Politik Rahmatan Lil Alamin’, ‘PKB partai antikorupsi’, dan lain-lain.

Kelima, Tabayun dan Jihad Konstitusi PKB, pentingnya menjalin komunikasi berjenjang yang berkesinambungan antar kader Partai PKB baik di daerah dan pusat, baik yang duduk pada jabatan eksekutif maupun legislatif. Dengan demikian, Partai PKB dapat berkontribusi lebih untuk membuka lapangan pekerjaan, mengentaskan kemiskinan, dan meningkatkan kualitas SDM, dalam rangka membangun Indonesia maju.

Jika kiranya hal-hal tersebut betul dapat dijalankan maka, Insya Allah PKB bukan saja hanya dapat berpartisipasi dalam melahirkan pemimpin masa depan (elite politik) yang berkualitas. Sekaligus juga, PKB dapat melakukan apa yang disebut sebagai modernisasi pengelolaan basis massa politik, dengan cara memadukan kearifan para ulama, kiai, sesepuh dengan semangat para pemuda demi kemaslahatan bersama (common-good) dalam bingkai ke-Indonesia-an yang demokratis.

Jika hal ini dilakukan, bukan mustahil pada pemilu 2024 yang akan datang PKB mengalami rebound dan dapat insentif elektoral yang tinggi. Eksperimentasi Muscab PKB Serentak adalah Musyawah untuk mencapai mufakat, bukan untuk membuat perpecahan di dalam PKB. Mari kita terima segala keputusan dan sama-sama berjuang menyambut pemilu 2024 mendatang. (*)

Advertisement
Advertisement

Terkini

Sosial-Budaya2 jam ago

Tata Cara Menggelar Salat Idulfitri 1442 H Saat Pandemi

SERIKATNEWS.COM – Kementerian Agama (Kemenag) telah menerbitkan panduan penyelenggaraan Salat Idulfitri 1442 H/2021. Panduan salat id di saat pandemi Covid-19...

News11 jam ago

Jumlah Covid-19 Tembus 1,7 Juta, Gus AMI Minta Pemerintah Percepat Vaksinasi

SERIKATNEWS.COM – Kasus Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Berdasarkan data terbaru dari Satgas Penanganan Covid-19 Kementerian Kesehatan, hingga Jumat 07...

News12 jam ago

Untuk Perawatan, Pasar Tanah Abang Ditutup Mulai 12 Mei

SERIKATNEWS.COM – Pasar Tanah Abang akan ditutup mulai 12 Mei 2021 hingga Selasa 18 Mei 2021. Pasar tekstil terbesar di...

Opini13 jam ago

Ramadan, Maafkan Kami yang Lemah Ini

TIDAK terasa ramadan akan berakhir. Bulan yang segala lipat ganda pahala dan keberkahan serta napak tilas turunnya al-Qur’an (nuzulul qur’an)...

News14 jam ago

22 Ribu Kendaraan Diputarbalik

SERIKATNEWS.COM – Selama dua hari penyekatan, 6-17 Mei 2021, pada masa pelarangan mudik di wilayah Provinsi Jawa Barat, petugas gabungan...

Ekonomi22 jam ago

Kurangi Impor, Pemerintah Genjot Pengembangan Pabrik Garam Industri

SERIKATNEWS.COM – Pemerintah melalui Kemenko Kemaritiman dan Investasi (Marves) terus mendorong pengembangan pabrik percontohan garam industri di Gresik, Jawa Timur....

Politik1 hari ago

Selesaikan Konflik Papua Secara Holistik dan Kolaboratif

SERIKATNEWS.COM – Konflik yang terjadi di Papua harus diurai akar persoalannya. Kemudian diambil langkah-langkah penyelesaikan secara kolaboratif dan holistik. Hal...

Populer

%d blogger menyukai ini: