Connect with us

Cerpen

Fancy Nancy

Published

on

Namanya Nancy. Aku sering memanggilnya Fancy Nancy, karena kegemarannya akan barang-barang branded, meski harus super ngirit dan nabung melintir setiap ingin menambah koleksi tas dan sepatunya. Kami bersahabat sejak di bangku SMP. Kisah percintaan Nancy dengan belasan prince charming bisa aku kompilasi jadi puluhan judul novel.

Namaku Pandu. Pandu Dewanata. Gagah yah? Namaku diambil dari cerita Mahabharata. Ayah dari Pandawa Lima. Seorang kesatria, pemanah yang mahir, penguasa Hastinapura. Harapan kedua orang tuaku agar anaknya tumbuh sebagai seorang pemimpin. Tetapi apa daya, ketika SMP mereka harus terpukul mendapati aku yang melambai. Ya, aku banci. Ketika aku terang-terangan kepada dunia, dunia menghukumku. Hanya Nancy yang berubah menjadi sahabatku.

“Hayooo nulis apa?”

“Oh shit, Nancy …! Berapa kali gue bilang jangan ngagetin gue! Sialan.”

“Maaf, Cin. Lagian serius amat sih ngetiknya. Baca doooong!”

“Kagak! Enak aja.”

“Dikiiiiit.”

“Nggaaaaaak!”

“Huh. Gue cium nih.”

“Iiiih najis!”

Sore itu aku dan Nancy janjian ketemu di Plaza Senayan. Dia baru pulang dari Paris. Mau kasih oleh-oleh. Awas saja kalau tempelan kulkas!

“Tadaaaaa! Semoga suka yah?”

“Wow, Fendi bag warna navy. I love it! Thank you, Baby.”

“You’re most welcome, Darling.”

Sore itu, topik Paris tak semanis yang aku bayangkan. Rupanya Nancy putus dengan pacar bulenya, Christopher. Keputusan itu diambil sepulangnya mereka dari Prancis, persis ketika transit di Doha. Chris melanjutkan urusan bisnisnya, Nancy kembali ke Jakarta.

“Jadi, akhirnya kalian putus hanya karena bulu dada?”

“Mau gimana lagi. Sejak awal Chris tahu aku suka jika dadanya bersih.”

“Ohmaigad, bule satu itu paling perhatian sama lo, paling sayang, paling pengertian.”

“Bule sinting, Beb. Malas ah, nggak usah diterusin. Kamu apa kabar?”

Hhhh … aku masih syok!

Lagi-lagi alasan putus Nancy dengan pacar-pacarnya bukan karena masalah fundamental. Putus dengan pacar sebelumnya, Mario, pun dengan alasan yang bagi sebagian besar orang mungkin sepele. Hanya karena Mario suka sendawa setelah makan dan kumur-kumur dengan minumannya. Duh, tetapi kalau ini sih aku aja yang banci jijay!

Baca Juga:  Kaca Mata

Nancy menyadari potensinya. Ia tahu maunya dan mengejarnya. Dulu, di SMA, ia pernah daftarkan aku lomba atletik antarkelas. Satu bulan penuh kita latihan bersama. Bayar pelatih yang seorang polisi militer. Coach tahu aku gay, tetapi tak membedakan latihanku dengan Nancy. Dari sini, pertemanan kami semakin erat. Berlanjut ketika kuliah, kami sama-sama diterima di UI. Dan sama-sama indekos di Depok. Ingat masa awal kuliah, ingat pacar Nancy yang seorang mahasiswa STAN. Ketemunya bak telenovela. Namanya Darmawan. Panggilannya Mas Wawan. Meski kampusnya di Surabaya, sebulan sekali ia datang untuk menjenguk adiknya, Puspita, yang satu indekos dengan Nancy. Di situlah tak sengaja ia bertabrakan dengan Nancy di pintu indekos. Namun, drama romantis tiada tara itu hanya bertahan 1 semester. Padahal keluarga Wawan sudah cinta mati sama Nancy yang saat itu masih kinyis-kinyis, Jurusan Teknik Sipil semester dua, yang nilainya A semua dan sudah bisa buat jembatan gantung. Mereka putus karena bulu hidung! Mungkin karena lebih muda, Nancy merasa lancang jika mengungkap hal itu kepada Mas Wawannya yang hobi banget makan bubur Cikini. Tetapi, memang si Mas Wawan bulu hidungnya panjang-panjang sampai kelihatan. Jijik!

Bulu hidung memang mengganggu. Pada perempuan apalagi. Cabutin tuh bulu! Beautiful is pain, Baby. Geleng-geleng kepala kalau ada perempuan yang tak setuju dengan phrase itu. Aku dan Nancy sangat menjaga hal-hal estetik. Buat menjaga kebugaran kita nge-gym serius dengan seorang personal trainer dan ikut thai boxing bukan untuk iseng. Buat kami, sehat saja tak cukup.

Hanya soal pacar, aku dan Nancy tak pernah satu persepsi. Nancy selalu ingin jangka panjang. Aku lebih suka having fun. Tak ada yang aku seriusin. Dan mungkin itu yang membuat hidupku bahagia. Meski hingga kini orang tuaku masih tak menerimaku.

“Beb, jangan lupa kita ada double date Jumat ini,” kata Nancy sore itu.

Baca Juga:  Apple Strudel

“Iyaaa,” aku jawab sekenanya, males. Nancy memang belum aku kenalkan dengan pacar baruku.

“Kamu sudah bilang Arya, kan?” sambungnya dengan mata membola. Khas ketika ingin tahunya memuncak. Annoying.

“Sudah,” jawabku.

“Dia bisa?” Masih saja matanya membola.

“Masih pikir-pikir. Dia takut kamu naksir dia,” candaku.

“Heh? Ganteng giling dia, Beb? Gantengan mana sama Pongki?” Kali ini mukanya asem.

“Hahaaa dasar Sassy Nancy. Bercanda, Beb!” tawaku puas.

Jumat, hari yang ditunggu-tunggu para mahasiswa indekos. Ada yang pulang, biasanya mereka yang rumahnya di area Jabodetabek. Ada yang mengerjakan tugas-tugas terutama para kutu buku atau yang sedang pendekatan dengan mahasiswa lain. Atau tetap pergi ke kampus, menjalankan hobby. Panjat tebing, memanah, tari, teater, main band. Kegiatan yang paling digemari anak-anak kampus. Gratis!

Aku dan Nancy datang bersama ke Kafe Pisa, Menteng. Pongki, pacar Nancy sudah datang duluan dengan gaya khas anak gunung. Tato di lengan kirinya yang kekar mengintip di balik kaus V-neck warna putih yang ia padukan dengan celana cargo warna krem, gesper warna hijau army erat memeluk perutnya yang kotak-kotak seperti buku strimin dan sepatu boots warna cokelat tanah? Yumm, tampak ranum sekali Pongki sore itu. Kenapa juga ia pakai celana cargo yang ketat bagian pinggulnya hingga menonjolkan sedikit ….

“Kenapa? Ada yang nggak matching?” suara Pongki yang dalam merusak pandanganku ke bagian menonjol itu.

“Sore ini, lo top deh. Selamat ya, Mak, lo sudah berhasil membuat bapak ini keren abis,” untung aku pintar ‘ngeles’.

“Arya sudah sampai mana, Beb?” tanya Nancy tak menanggapi pujianku akan penampilan Pongki.

“Sebentar lagi sampai,” jawabku sambil memperhatikan motif ukiran gelang di tangan kanan Pongki. Ingin rasanya mempermainkan jariku di antara gelang-gelang itu. Nancy tak melihat, ia sedang sibuk dengan handphone-nya.

“Trus, trus, habis ini mau naik gunung mana lagi, Ki?” tanyaku setelah menguasai diri.

Baca Juga:  Biografi Pejuang

“Seru, rencananya aku akan mendaki 3 gunung sekaligus. Arjuna, Welirang, Butak. Nancy ikut kok. Yuk, kamu sekalian. Tetapi tidurnya di tenda, kita kemping di atas,” jawabnya semangat.

“Duh nggak deh, naik gunung bisa gosong ntar kulit gue,” tangkisku.

Tak lama kemudian Arya muncul dengan senyum lebar. Selebar dada bidang Pongki yang masih asyik menceritakan rencana naik gunungnya. Kami berempat menutup double date malam itu dengan tequila dan tarian ala-ala India. Aku pulang dengan Arya, Nancy pulang ke rumah Pongki.

***

Dua tahun berselang. Nancy ikut program pertukaran pelajaran di Sydney. Dua tahun itu pula kami tak pernah bertemu. Sebuah e-mail yang ia kirimkan merusak persahabatan kami. Dan ujungnya, kepulangannya ke Indonesia tak lagi aku tunggu-tunggu.

Bermula dari putus hubungannya dengan Hugh Jackman, serius, namanya Liam tapi wajahnya persis Logan di film X-Men, lengkap dengan berewoknya. Mereka putus karena Logan, maksudku Liam, ketika makan selalu bersuara. Hhh, capek deh.

Table manner, bulu dada bersih, bulu hidung tak kelihatan, wangi, makan sehat, senang atletik, IQ di atas rata-rata, tidak kentut sembarangan, BAB juga tak perlu bilang-bilang. Syarat-syarat yang berat untuk seorang pacar idaman si Sissy Nancy.

“Dan itu semua ada di kamu, Pandu. Bohong kalau kamu tidak merasakan yang aku rasakan,” tulis Nancy dalam e-mail-nya. Kami sudah bersahabat 11 tahun lamanya. Selama itu pula ia menerimaku sebagai seorang gay. Dan kini aku merasa dikhianati. Tidak, aku tak akan mengubah bentuk cintaku pada Nancy. Aku memilih pergi. Aku tetap mengaguminya. Fancy Nancy, pretty Nancy, maafkan aku ….

Advertisement
Advertisement

Terkini

Sosial-Budaya2 jam ago

Polri Bekerja Sama Paguyuban Trevista Ciputat Berikan Vaksin dan Baksos

SERIKATNEWS.COM – Ratusan warga Kelurahan Cipayung, Kecamatan Ciputat Tangerang Selatan mendapatkan vaksin gratis, yang diselenggarakan Akmil 91 Polri bekerja sama...

News2 jam ago

Tak Hanya Pelayanan Kelistrikan, PLN Turut Kembangkan Pertanian

SERIKATNEWS.COM – PLN Unit Induk Daerah (UID) Lampung melalui PLN Peduli turut mengembangkan pertanian di Desa Sumber Jaya, Kecamatan Jatiagung,...

News3 jam ago

Luncurkan e-Procurement Academy, PLN Pimpin Transformasi Pengadaan Barang dan Jasa di Lingkungan BUMN

SERIKATNEWS.COM – PT PLN (Persero) secara konsisten melanjutkan transformasi sejak gagasan ini dirilis pada April 2020 tahun lalu. Salah satu...

News5 jam ago

PLN Operasikan Tol Listrik Flores Rp1,1 Triliun, Sambungkan Labuan Bajo hingga Maumere

SERIKATNEWS.COM – PT PLN (Persero) mempertegas komitmennya untuk memperkuat keandalan listrik dan meningkatkan rasio elektrifikasi di wilayah Indonesia Timur. Kali...

Sosial-Budaya6 jam ago

Pelaku Usaha Salurkan 25 Ribu Paket Sembako untuk Warga Terdampak COVID-19

SERIKATNEWS.COM – Pelaku usaha toko ritel modern menyalurkan bantuan bagi warga Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang terdampak pandemi COVID-19. Wakil...

Politik9 jam ago

Arah Baru Pembangunan Desa: Terwujudnya Desa Peduli Anak

SERIKATNEWS.COM – Perkembangan anak merupakan ukuran kemajuan sebuah masyarakat yang paling presisi. Hal tersebut disampaikan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal...

Olahraga1 hari ago

Honda Persiapkan Diri Jadi yang Terbaik di F1 Grand Prix Hungaria

SERIKATNEWS.COM – Tim balap Honda kembali bersiap diri untuk melakukan balapan F1 Grand Prix Hungaria. Ajang ini akan diselenggarakan di...

Populer

%d blogger menyukai ini: