Connect with us

Literasi

KLASIKA Kembali Menggelar DialoKlasika

Published

on

SERIKATNEWS.COM – DialoKlasika kali ini mengangkat sebuah tema “Masihkah Indonesia? Telaah Kritis Syiar Kebanggsaan Kader Pergerakan di Tengah Gelombang Revolusi Industri 4.0”. Tema ini sengaja diangkat guna membedah dan membaca realitas hari ini, serta memaknainya kembali.

Berbagai kejadian maupun peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, acapkali luput disadari sebagai sebuah makna refleksi bagi kesadaran diri. Dalam ruang lingkup Indonesia, banyak peristiwa politik, ekonomi, dan sosial hanya dimaknai sebagai hal-hal biasa.

Peristiwa yang makin marak belakangan adalah politik transaksional. Hal itu banyak dilakukan secara terang-terangan oleh kepala daerah bahkan dalam Pilpres 2019 lalu. Baik dalam proses pencalonan hingga perebutan suara. Selain itu, belakangan kembali mencuat politik identitas, radikalisme, hingga tindakan ekstrimisme. Ditambah lagi perubahan pola masyarakat menghadapi era disrupsi karena digitalisasi.

Hal tersebut mestinya menjadi tugas organisasi kepemudaan yang natabenenya masih memiliki idealisme termasuk PMII untuk melawan arus negatif yang terus menggerus nilai-nilai kebangsaan. Lalu di manakah peran PMII?

Tergerusnya nilai-nilai kebangsaan akibat realitas itu membuat Indonesia seperti kehilangan identitasnya. Sebab semua peristiwa-peristiwa yang terjadi merupakan bagian dari pertarungan ideologi. Sebagai organisasi yang membawa narasi kebangsaan, PMII memiliki posisi penting dalam menjaga kestabilan sosial-politik di Indonesia.

PMII mesti cepat mengambil sikap atas peristiwa yang terjadi belakangan. Kemajuan teknologi membuat pertarungan ideologi tidak hanya terjadi secara langsung namun juga lewat dunia maya. Bahkan pertarungan cenderung lebih masif dibanding konfrontasi langsung.

Hal itu bertolak belakang dengan kondisi mahasiswa sekarang yang masih tereuforia dengan reformasi 1998. Akibatnya pemikiran ihwal revolusi masih identik dengan konfrontasi langsung atau parlemen jalanan. Mindset itu membuat gerakan mahasiswa kini cenderung monoton, tidak kreatif dan stagnan.

Baca Juga:  Deddy Corbuzier Masuk Islam, Asmirandah Ke Kristen, Dan Surga Di Bumi!

Oleh karena itu, penting bagi kader-anggota PMII melakukan adaptasi dengan kemajuan teknologi. Terjadinya digitalisasi di segala lini membuat arus informasi semakin cepat. Hal itu bisa dimanfaatkan sebagai media untuk menyampaikan narasi kebangsaan yang telah dicanangkan PMII sejak lama.

Dalam membincang persolalan tersebut, DialoKlasika kali ini menghadirkan dua tokoh pergerakan sebagai pemantik dalam dialog tersebut, yaitu Chepry Chaeruman Hutabarat (Founder KLASIKA) dan Daud Azhari (Ketua Demisioner PKC PMII DKI Jakarta).

Dengan hadirnya dua tokoh pergerakan tersebut, diharapkan dapat memberikan telaah kritis terhadap fenomena kebangsaan hari ini. Dalam dialog tersebut, diharapkan juga mampu memberikan peta dan posisi PMII dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Hal itu perlu kita bincang kembali agar para kader pergerakan mampu dan optimal melakukan syiar kebangsaan di tengah Revolusi Industri 4.0. (RKS)

Advertisement

Popular