Connect with us

Literasi

Memahami Ketentuan Rukhsoh Dalam Darurat

Published

on

Fikih
Ilustrasi: NU Online

Kita mengenal dalam ushul fiqih ada istilah hukum taklifi, ini dimaksud dengan taklif hukum berlaku bagi muslim yang baligh, dan berakal (tidak gila). Artinya, jika bukan muslim, belum baligh atau sedang keadaan gila, maka hukum Allah (syari’at) itu tidak berlaku pada mereka.

Terkait ketentuan syari’at dengan sumbernya Alquran juga berdasarkan nash yang sudah jadi qothi’ al-tsubuti ( قطعي الثبوت ) hingga menjadi dalil al-tsubuti ( دليل الثبوت ) dalil yang tetap dan tidak berubah, karena jelas nash-nya. Namun apakah dengan dhonny al-tsubuty bisa kita ambil ketentuan darinya, inilah yang kemudian kita mengenal ada ayat muhkamat dan juga ada ayat ghoir muhkamat.

Dari sini kita memahami bahwa dalil hukum Islam seperti Alquran ada ketentuan yang tidak bisa diubah ( نسخ ) ada pula anjuran keringanan ( رخصة ) ini pun bukan bermaksud mengubah yang sudah qothi, tapi mengantarkan pemahaman dalam satu penerapan yang sifatnya khusus ( تخصيص ).

Menurut Abdurahman Dahlan (ahli Ushul Fiqh) ada dua ketentuan yang oleh sebagian besar ulama ushul fiqh yang termasuk dalam pembahasan hukum wadloi ( وضعي ) yaitu ada ketentuan ‘azimah dan ada ketentuan rukhsoh. Pada ketentuan ‘azimah itu hukum taklifi yang berlaku bagi mukallaf menjadi ketentuan yang normal, tapi ada ketentuan diperbolehkannya rukhsoh (keringanan) bagi mukallaf.

Dasar ketetapan ‘azimah ( عزيمة ) itu adalah syariat yang berlaku secara umum:

  ما شرع ابتداء على وجه العموم

Sedangkan ketentuan rukhsoh ( رخصة ) itu adalah karena alasan dan pertimbangan darurat, kesulitan dan keberatan. Ini pula tidak menjadikan ketentuan keringanan keluar dari keberlakuan syariat atau keluar dari maqoshid (tujuan syariat).

ما شرع من الاحكام للتخفيف عن العباد في احوال خاصة

Baca Juga:  Peran Strategis Indonesia Jaga Stabilitas Kawasan Asia Pasifik

Atau adanya rukhsoh itu karena sebab udzur.

الحكم الثابت على خلاف الدليل لعذر

Ketentuan-ketentuan rukshoh tersebut harus berdasarkan dalil syariat seperti Alquran, al-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Jadi tidak serta merta keluar dari mustadlal bih tersebut. Dalam kitab Jam’u al-Jawami’, Imam Tajuddin Abdul Wahab al-Subki menjelaskan bahwa rukhsoh bertujuan untuk kemudahan.

والحكم الشرعي اى المخوذ من الشرع ان تغير من حيث تعلقه من صعوبة له علي المكلف الى سهولة كان تغير من حرمة الفعل او الترك الى الحل له لعذر مع قيام السبب للحكم الاصلي المختلف عنه للعذر فرخصة .

Bagaimana rukhsoh itu bisa berlaku, tentunya perlu alasan-alasan yang sah sebagimana ditentukan oleh syara’ ( شرع ). Hukum penerapan rukhsoh itu ibahat atau mubah (boleh), bukan wajib.

Pada teks ayat Alquran terdapat pengertian kebolehan adanya rukhsoh seperti ayat-ayat di bawah ini. فليس عليكم جناح

Ini terdapat di Alquran surat an-Nisa ayat: 101. فلا اثم عليه Ini juga terdapat dalam Alquran surat al-Baqoroh ayat: 182. نفي الحرج Penggalan ayat tersebut ada pada Alquran surat at-Taubah ayat: 91.

Inti dari ketentuan rukhsoh tidak meninggalkan ketentuan umum ( عزيمة ) yang sudah menjadi dalil al-Tsubuti, tapi keterkecualian disebabkan darurat, udzur dan memberatkan serta mengakibatkan mafsadat bagi mukallaf.

Seperti baru-baru ini terkait tim medis yang tengah menangani pasien terdampak wabah Corona, ketika menjalankan kewajibannya sebagai muslim yakni salat fardlu 5 waktu, untuk melaksanakn wudlu terlebih dahulu karena wudlu termasuk syarat sahnya sholat, maka ada illat darurat atau keberatan jika melepas baju pengaman hingga dikhawatirkan tertular dari pasien. Alasan itulah fiqih memberi solusi khusus bagi tim medis jika hendak salat untuk tidak melakukan wudlu atau tayammum.

Baca Juga:  Pemkot Jambi Kembangkan Perpustakaan Digital

Wa Allahu a’lam bi al-Showabi

Advertisement

Popular