Connect with us

Opini

Merdeka dan Tanggung Jawab Sejarah

Published

on

Foto: Serikat News

Oleh: Jefri Gultom


Merdeka itu ibarat buah simalakama.

Kalau merdeka dipahami hanya sebagai bebas dari kolonialisme, kita sudah peroleh. Kita juga tak perlu berjuang untuk keberlangsungan peradaban bangsa. Tetapi kalau merdeka dipahami sebagi proses untuk terus bertumbuh maka sejarah merdeka adalah kisah hidup sehari-hari.

Konteks yang kedua inilah, tugas menunaikan tanggung jawab sejarah sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa ini patut direfleksikan.

Memahami sejarah, apalagi sejarah bangsa sendiri adalah kesanggupan moral untuk melihat kehidupan masa kini dengan perspektif waktu, lalu menilainya agar ada kepastian dalam melangkah dan berjuang. Bahwa setiap waktu punya kisah yang unik tapi ia tidak berdiri sendiri. Setiap masa bergerak maju dengan ingatan masa lalu sekaligus tersimpul harapan untuk masa depan.

Merdeka itu sebuah proses  mengafirmasi kehendak bebas yang berhadapan dengan rumitnya berbagai tantangan zaman. Oleh karena itu, jauh sebelum cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia diraih, berbagai daerah yang dengan kekhasannya masing-masing, yang masih bernama Nusantara, penduduk setempat sudah bergeliat untuk membebaskan daerahnya dari kungkungan kolonialisme.

Merdeka kemudian hari menjadi sebuah inisiasi gerakan politik kebangsaan dalam arti sebenarnya baru dimulai pada awal abad ke-20 setelah paham nasionalisme mulai menjalar dan berkembang di Eropa diserap oleh kesadaran dan pemikiran kaum terpelajar yang memperoleh pendidikan Barat zaman itu.

Menurut Ignas Kleden, ada dua sifat yang membedakan gerakan kebangsaan dengan gerakan-gerakan sebelumnya. Pertama, gerakan kebangsaan tak lahir dari sekadar rasa tidak puas terhadap kebijakan kolonial atas nasib daerah tertentu, tetapi dari keyakinan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa sehingga kolonialisme merupakan pelanggaran suatu hak yang bersifat universal dan harus ditolak.

Kedua, gerakan kebangsaan tidak lagi memakai perlawanan bersenjata sebagai jalan utama menghadapi pihak penjajah, tetapi mengubah perlawanannya menjadi suatu perjuangan politik.  Dalam sistem hukum kolonial perjuangan bersenjata dengan mudah dianggap pemberontakan yang ilegal secara hukum, sedangkan perjuangan politik adalah aksi yang legal secara hukum meskipun selalu dapat dicari dalih untuk menjadikannya ilegal.

Baca Juga:  Globalisasi Virus dan Jejak Peradaban

Lantas, bagaimana kita menegaskan komitmen nasional untuk menunaikan tanggung jawab sejarah tersebut?

Merawat solidaritas sosial

Kita merayakan kemerdekaan ditengah situasi global sedang melawan pandemic Covid-19. Tahun ini adalah yang kedua kalinya kita merayakan kemerdekaan dengan sederhana dan bersifat terbatas dengan aturan dan protokol kesehatan karena Covid-19.

Meski tak seperti biasanya yang dikemas dengan beragam kegiatan, berbagai ekspresi untuk merayakan kemerdekaan ini sudah tampak sejak awal bulan Agustus. Antusias ini kian terasa dengan kado medali emas di ajang Olimpiade Tokyo 2020.

Di tengah pemerintah sedang bekerja keras dengan menerapkan PPKM, berbagai gerakan sosial tumbuh dengan sangat antusias dan mengesankan. Kolaborasi dari berbagai pihak, lembaga, komunitas, juga institusi menuai harapan yang besar akan cita-cita kemerdekaan itu. Gerakan-gerakan tersebut bahkan diinisiasi oleh beragam latar belakang. Semua demi menunaikan tanggung jawab sejarah yang terus bergerak maju untuk diperjuangkan.

Merawat gerakan sosial, menyelamatkan Indonesia dari pandemic. Itulah akar kemerdekaan yang sesungguhnya di masa pandemic ini.

Bahwa, tak ada bangsa yang akan bisa bertahan kalau akar sosio-kulturalnya keropos dari dalam, kalau masyarakat tidak solider dan patuh pada simpul budayanya. Sebab, hidup berbangsa bukan hanya urusan semua orang berimajinasi sebagai satu entitas sebagaimana yang dikemukan oleh Anderson, tapi soal bagaimana rekayasa sosial dan politik dalam menciptakan ekosistem pembangunan berkelanjutan dalam masyarakat.

Hari-hari ini, kita terus diterpa berbagai isu yang berpotensi memecah belah. Isu ini dimanipulasi atas nama kemerdekaan atau pemisahan diri oleh sebagian kelompok masyarakat. Beredar secara massif ideologi serta maraknya ujaran kebencian di media sosial dan hoaks membenarkan rumitnya tantangan kemerdekaan saat ini.

Bahwa dalam kisah kemerdekaan, kehidupan itu sendiri adalah universalitas nilai. Simpul solidaritas sosial. Manusia itu homo socius. Maka ia tidak bisa mengikatkan diri pada satu aspek atau dimensi saja dalam hidupnya. Karena prinsip dasarnya satu dan sama. Semua aktivitas manusia adalah keterkaitan antara hubungan-hubungan dalam satu kesatuan.

Baca Juga:  Panggung Daring Para Seniman

Hal ini yang selalu mengingatkan kita pada nilai dan norma yang dibangun sejak kita belum bersatu sebagai Indonesia hingga hari ini. Fundamen ini juga yang mengikat kita untuk terus menunaikan tanggung jawab sejarah.

Mungkin! Kalau kemerdekaan dianggap sebagai simpul perjalanan bersama untuk saling mengikat maka perlu adanya keragaman, keterbukaan, kebersamaan, religiositas dan solidaritas sosial. Konsep ini sebagai wahana spirit totalitas untuk saling memerdekakan.

Merdeka adalah proses yang tidak sekali jadi tapi akan terus bertumbuh. Setiap momentum kemerdekaan selalu mengabadikan masa lalau, masa kini, dan yang akan datang. Merdeka itu momentum mempersatukan. Bukan hanya milik warna kulit tertentu, suku ataupun komunitas tertentu saja, melainkan milik semua warna yang sudah bersepakat menjadi satu.

Melalui kemerdekaan, sejarah peradaban bangsa mengafirmasi eksistensi manusia secara universal. Itulah tanggung jawab sejarah untuk menjawab cita-cita kemerdekaan.

Advertisement
Advertisement

Terkini

News27 menit ago

Kemenperin Terima 150 Unit Konsentrator Oksigen dari Asosiasi Gula

SERIKATNEWS.COM – Kementerian Perindustrian bersama pelaku dan asosiasi industri bertekad untuk terus melakukan upaya percepatan pencegahan dan pengendalian Covid-19 di...

News43 menit ago

EFT Gelar Lomba Menulis Artikel, Hadiah Utama Rp7.500.000

SERIKATNEWS.COM – Selama ini pembangunan ekonomi dinilai hanya mengejar pertumbuhan dan sering kali merugian lingkungan. Karena itu, diperlukan inovasi kebijakan...

News9 jam ago

Yuk Merapat, PLN Cari Mitra Usaha untuk Bangun Lebih dari 100 SPKLU

SERIKATNEWS.COM – PT PLN (Persero) membuka peluang kerja sama bagi para pelaku usaha untuk ikut membangun 101 stasiun pengisian kendaraan...

News10 jam ago

Sediakan Listrik untuk Kapal Sandar, PLN Dukung Pengembangan Pelabuhan Ramah Lingkungan

SERIKATNEWS.COM – PT PLN (Persero) terus berinovasi dan menghadirkan layanan kelistrikan di sektor kelautan dan perikanan. Terbaru, Unit Pelaksana Pelayanan...

News10 jam ago

Generator Milik Kantor Pemkab Sampang Hangus Terbakar

SERIKATNEWS.COM – Lingkungan Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang Madura Jawa Timur dikagetkan dengan adanya asap hitam yang mengepul ke udara....

Warkopi Heboh, Ini Penjelasan Indro Yang Mangejutkan.! Warkopi Heboh, Ini Penjelasan Indro Yang Mangejutkan.!
Lifestyle13 jam ago

Warkopi Heboh, Ini Penjelasan Indro Yang Mangejutkan.!

SERIKATNEWS.COM – JAKARTA- Media sosial belum lama ini di gemparkan  dengan sosok remaja yang mempunyai fisik mirip dengan grup lawak...

News15 jam ago

Muncul Klaster Pendidikan, Zen ADV: Jangan Hentikan PTM, Kasihan Pendidikan Anak-anak

SERIKATNEWS.COM – Munculnya klaster pendidikan di beberapa daerah di Jateng setelah berlangsung pembelajaran tatap muka (PTM) beberapa minggu ini, hendaknya...

Populer

%d blogger menyukai ini: