Connect with us

Cerpen

Monet

Published

on

Monet

Bulat merah, cahayanya berpendar di kanal-kanal sempit Venezia.

Berlenggok berdansa mengikuti gondola yang menyapunya lembut.

‘O Sole Mio dalam lirik aslinya bahasa Napoli nyaring mengalun dari sebuah café bercampur aroma kopi dan pastry yang baru dikeluarkan dari oven.

 

***

“Bagiku sunset seperti jeruk, seperti citrus. Bulat dan oranye.”

“Bukan. Sunset itu merah. Paduan antara jingga dan magenta.”

“Ah, bilang saja dark orange. Kenapa kita tak pernah sependapat dengan warna?”

“Kita tak sependapat dalam banyak hal, Maya.”

“Hmm, kamu benar.”

Satu minggu di Venezia. Aku tak terlalu suka tempat ini. Yang di-declare banyak orang sebagai salah satu tempat paling romantis di dunia. Naik gondola aku melihat oranye-oranye mengapung. Dan di beberapa kelokan mencium bau pesing. Arghh, sial! Lebih sialnya lagi karena aku bertemu Joe, mantan pacar yang tak pernah serius putus, dan mungkin tak pernah serius jadian. Setiap kali aku pergi, dia tak pernah perjuangkan aku untuk kembali. Huh.

“Aku rasa, tak lama lagi Venice akan tenggelam,” ujarku. Topik yang paling tepat untuk dibicarakan.

“Tergantung laju pemanasan global yang akan terjadi. Lajunya didorong produksi karbon dioksida dan CFC. Sebetulnya pemanasan global ini sudah diatur dalam Protokol Kyoto tetapi ditolak Amerika karena masalah ekonomi.”

“CFC?”

“Chlorofluorocarbon. Bahan utama untuk refrigerator, AC, dan peralatan pendingin lainnya. Zat itu kalau lepas ke atmosfer karena kebocoran, dan pasti ada kebocoran, akan merusak lapisan ozon sehingga mengakibatkan efek rumah kaca. Efek itulah pemicu pemanasan global yang bisa mencairkan es di kutub selatan dan utara bumi. Jika es mencair, volume air laut otomatis naik. Jangankan Venice, kantor DPR saja bisa terendam air laut.”

Baca Juga:  Caleg (1)

“Hahaa jadi kalau suatu saat kantor DPR tenggelam, itu bukan karena politisinya banyak dosa?”

Ternyata aku merindukan saat-saat seperti ini. Berdua saja dengannya, menikmati senja, bicara tentang apa saja. Semenjak kami pisah, Joe mendapat kontrak kerja di perusahaan minyak Prancis yang berkantor di Austria. Libur ia habiskan untuk keliling Eropa, berburu nature photography. Tetapi, kenapa Venice hari ini dari jutaan tempat-tempat cantik di Eropa?

“Salzburg – Venice. Tak sia-sia enam jam di kereta Eurail,” katanya usai menyeruput macchiato, mengeluarkan Canon 5D, membidik sekumpulan merpati dengan lensa tele-nya.

Tak sia-sia karena merpati-merpati cantik dengan latar belakang bangunan-bangunan kuno bersejarah seperti lukisan abad Renaisans yang hidup, atau tak sia-sia karena bertemu denganku?

“Gimana pekerjaan kamu? Jadi meneruskan doktor di Unpad?”

“Pekerjaan baik-baik saja, tak ada yang istimewa dan S3 sepertinya jauh api dari panggang.”

“Terbalik, Nona, jauh panggang dari api, hahaaa.”

Arghhh tertawamu, Joe. Dadaku berdesir. Aroma jaket kulitnya mengingatkanku pada aroma musim semi. Mengingatkanku pada aroma kilang anggur di pinggiran Kota Melbourne. Mengingatkanku pada asmara yang pernah memuncak. Angin February yang berembus di depan Doge’s Palace mendadak hangat saat ia cium pipiku. Heh? Kenapa ia cium pipiku? Telapak tanganku berkeringat, sesuatu berdegup kencang.

“Wangi pipimu tak berubah. Masih pakai Guerlain? Aku tak salahkan kamu, kosmetik Eropa memang cocok untuk kulitmu.”

“Hmm, mungkin,” jawabku salah tingkah.

Kini tangannya mempermainkan ujung-ujung jariku. Untung kami bukan di Jakarta, aku tak ingin malam ini berlanjut. Aku tak sendirian datang ke Venice.

“Maya, kenapa kamu harus cepat-cepat kembali?” bisiknya lembut. Pertanyaan yang aku takutkan.

“Satu minggu, lebih dari cukup untuk melakukan riset.” Aku bohong. Aku ke sini untuk berlibur.

Baca Juga:  Paris

“Siapa tahu aku bisa bantu menyempurnakan risetmu. Please, stay for a couple of days.” Ah betapa mudahnya jatuh cinta lagi dengan laki-laki ini.

Mata itu. Mata yang selalu teduh menatapku, mata yang selalu membuatku takluk. Joe yang santun, namun sungguh liar di tempat tidur.

“Joe, aku harus kembali. Terima kasih kopinya.” Aku buru-buru berdiri, aku tak boleh lengah, aku sudah tak sendiri lagi.

“Maya, tunggu!” Tangannya meraih pinggangku. Mencium lembut bibirku. Manis, seperti cinnamon, dan semakin manis di atas seprai licin kamarnya di Sina Palazzo Sant’Angelo, tak jauh dari Rialto Bridge dan alun-alun St. Mark’s Square tempat aku menggelar pesta tunangan dua hari lalu.

Mataku menerawang menatap pendar-pendar keemasan yang dikirim matahari senja di atas pesawat kembali ke Jakarta. Kali ini sinarnya mengandung sengatan. Menuduh sekaligus menyudutkan. Irwan, tunanganku masih saja menggenggam tanganku sejak pesawat taxiing, sementara tangan kanannya tak lepas dari buku How Trump Thinks tulisan Peter Oborne, seorang wartawan senior Inggris. Sesekali ia tertawa sinis membaca kompilasi cuitan Trump sejak 2009 itu.

Irwan tak perlu tahu perasaanku sesungguhnya. Dan aku? Aku belum siap dengan skenario sangitku selain habis menikmati malam dengan seorang kawan lama. Sunset di Venice, keindahan yang tak beraturan, susah untuk diungkapkan seperti lukisan Monet.

Advertisement
Advertisement

Terkini

News32 menit ago

Lindungi Konsumen, Kemendag Ungkap 31.553 Depot Air Minum Tidak Higienis

SERIKATNEWS.COM – Kementerian Perdagangan berkomitmen menggalakkan perlindungan konsumen. Melalui Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN), Kemendag menemukan beberapa...

Olahraga45 menit ago

Live Streaming Leicester City Vs Manchester United

SERIKATNEWS.COM – Manchester United bertandang ke Leicester City dalam lanjutan Liga Inggris. Laga ini berlangsung di King Power Stadium, Sabtu...

News5 jam ago

Lompatan Kebijakan Lawan Pandemi

SERIKATNEWS.COM – Dalam menghadapi Covid-19, pemerintah mengambil langkah cepat dan melakukan lompatan kebijakan. Langkah itu, dinilai Menteri Komunikasi dan Informatika...

News7 jam ago

Ditutup Wapres Ma’ruf Amin, PLN Sukses Kawal Listrik PON XX Papua 2021

SERIKATNEWS.COM- 16 Oktober 2021 – Gegap Gempita Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021 memasuki babak akhir. Puncak acara penutupan...

Opini9 jam ago

Lebih Baik Sakit Hati Daripada Sakit Gigi

Bila judul lagu dangdut menyatakan, “Lebih Baik Sakit Gigi Daripada Sakit Hati”, di masa pandemi ini berlaku sebaliknya. Hidup seseorang...

News24 jam ago

Pemkot Bukittinggi Beri Pelatihan Keterampilan Lansia

SERIKATNEWS.COM – Warga lanjut usia Kota Bukittinggi mendapat pelatihan keterampilan di Aula SMKN 2 Bukittinggi, Jumat, 15 Oktober 2021. Kegiatan...

News1 hari ago

Beban Puncak Listrik Jawa-Bali Cetak Rekor, Dirut PLN Sidak Unit Jabar Pastikan Layanan Andal

SERIKATNEWS.COM- 15 Oktober 2021 – PT PLN (Persero) memastikan layanan listrik kepada pelanggan andal untuk menyambut pemulihan ekonomi pasca pandemi...

Populer

%d blogger menyukai ini: