Sri Semeleh

68
Semeleh

“Mak, aku mau namaku diganti”
“Diganti jadi apa nduk?”
“Jayanti. Aku suka Jayanti”
“Ya sudah, mulai sekarang namamu Sri Jayanti Semeleh”
“Aku gak suka ada Semeleh-nya”
“Ya sudah, Sri Jayanti Ora Semeleh”
“Ah emak jahat, aku mau nyusul mbak Jeki!”

Emak dan Bapak yang sedang kerokan tertawa terkekeh. Ini bukan kali pertama bungsu mereka minta diganti namanya. Nama adalah rangkaian doa. Tetapi argumen itu tak pernah memuaskan Semeleh. Ia selalu bandingkan namanya dengan nama kakaknya Sri Rejeki, yang baginya terdengar anggun dan bersahaja. Nama Semeleh hanya menjadi sasaran bully teman-temannya. Biasanya kalau sudah keterlaluan di-bully, ia minta sang kakak membelanya. Dan hal itu selalu berhasil. Perbedaan umur yang cukup jauh membuat Sri Rejeki tak ubahnya seperti bodyguard buat Semeleh.

Tetapi kini Rejeki tak selalu ada. Sudah hampir 2 tahun ia bekerja di pabrik biskuit, di Batam. Semenjak bekerja di sana, kehidupan orang tua mereka jauh lebih baik. Emak tak lagi ikut Bapak bekerja sebagai kuli bangunan. Tinggal di rumah, masak, nyuci dan terima jahitan. Emak memang tak bisa tinggal diam. Uang kiriman Rejeki ia eman-eman betul. Nabung buat naik haji juga, katanya.

Semeleh, yang bersekolah di pondok pesantren seminggu sekali pulang untuk melihat bapak dan emak. Teman-teman pondok memanggilnya Sri. Siapa namamu? Sri, Sri saja, begitu ia biasa menjawab. Banyak yang tak tahu apa arti Semeleh. Apa maknanya, apa kata dasarnya, siapa panggilannya. Ahhh buang-buang waktu. Kelak, lulus dari Madrasah Aliyah ia ingin melanjutkan akademi kebidanan. Ia tak suka kehidupan pondok yang konservatif. Jalan berpikirnya dibatasi dengan tembok tinggi berduri. Pertanyaannya tentang segala hal sering kali hanya menjadi sekat antara ia dan teman-temannya.

Baca Juga:  Paris

“Pokoknya Sri mau kuliah, mbak”
“Berapa uang pendaftarannya”
“Nanti setelah UN baru tahu. Kalau nilaiku bagus, aku bisa dapat diskon”
“Ya sudah, belajar dulu yang rajin”

Telepon dari sang adik itu artinya, Rejeki harus mengumpulkan uang over-time dari pekerjaannya di pabrik bagian Quality Control. Semeleh, Semeleh… nama yang unik. Sesuai falsafah hidup Rejeki; Sabar, sareh, sumeh, semeleh…

“Jeki, rumah bocor lagi. Dan sebentar lagi lebaran THR emak belum kamu kirim?
“Iya mak, rencananya uangnya mau Jeki bawa pulang nanti sekalian”
“Tapi emak mau belanja emping sama daging ndak ada uang”
“Ya sudah, besok Jeki sempetin ke bank”
“Bener?”
“Iya mak…”

Tuuut… Emak langsung menutup telepon setelah mendapat jawaban melegakan dari Rejeki.

***

Suara takbir menggema di seluruh penjuru kota Solo. Tradisi takbir dengan berjalan keliling masih dilakukan para remaja dan anak-anak di kota ini. Hanya bedanya, kini mereka tak lagi membawa obor bambu berisi minyak tanah dan sumbu kompor. Era digital, takbir keliling memakai lampu handphone, headlamp, senter dan emergency lamp. Inilah kutukan modernisasi. Melenyapkan sebuah tradisi.

Bagi Rejeki, mudik kali ini bukan soal takbir dan obor. Teman-teman SMEA yang ia rindukan ternyata pada menjauh. Ia tak tahu sebabnya. Tak ingin melihatnya sukses? Ah bullshit, aku belum lama kerja di Batam, belum bisa membelikan rumah orang tuaku, belum punya mobil sendiri, di Batam masih tinggal di rumah susun yang lebih tepat disebut kandang burung walet, belum kawin, masih item, dekil, apa yang membuat mereka cemburu? Semeleh melihat kakaknya melamun.

“Mbak, ga usah dipikir”
“Heh, sok tahu kamu”
“Aku tahu semuanya. Aku tahu mbak Puji, mbak Nunung, mas Gun, lek Siti menjauhi mbak Jeki, karena semua mengira mbak kerja di karaoke, tempat begituan”
“Hah?”
“Aku tunjukin foto mbak Jeki di pabrik. Mereka ndak percaya. Akhirnya aku adu mulut sama mereka”
“Kamu apa?”
“Aku bilang, kalau sampai aku dengar lagi mereka ngomong yang ndak benar, aku jotos”
“Jotos? Kamu?”
“Hanya karena sekarang kita punya dapur sendiri, kamar mandi sendiri, rumah ndak bocor-bocor lagi, mereka bisa ngomong seenaknya”
“Semeleh, nduk… kamu…”
“Keren kan aku? Kalau macam-macam sama mbakku tak jotos!”
“Memangnya kamu berani?
“Ndak sih… “
“Hahaaaa”

Keduanya tertawa lepas. Rejeki baru tahu apa yang terjadi dengan teman-teman masa kecilnya. Sri Semeleh… Ia boleh membenci namanya, tapi hatinya penuh cinta yang tak ternilai besarnya kepada sang kakak, panutannya, Sri Rejeki.