Tasawuf, bagi kalangan santri pesantren salafi (sistem klasikak) adalah “narekat”. Satu rutinitas yang isinya ngaji, wiridan (zikir), perbanyak salat sunah dan menyendiri (uzlah), serta yang biasa adalah “mutih” atau puasa, dalam tingkatan selanjutnya disebut riyadloh dan mujahadah.
Pasti setiap orang yang mau atau tengah “narekat” harus punya guru atau dalam tarekat disebut mursyid. Awalnya orang (calon murid) mau narekat harus ijazah tarekat pada sang mursyid, apa pun itu nama tarekatnya. Sebab sanad dalam tarekat itu semacam rohnya.
Imam al-Jurjani, mendefinisikan tasawuf itu secara normatif dengan pendekatan epistemologis. Seperti berikut penjelasannya:
التصوف هو تصفية القلب عن موافقة البرية و مفارقة الاخلاق الطبيعية و اخماد الصفات البشرية و التعلق بعلوم الحقيقة و استعمال ما هو اولى من السرمدية والنصح لجمع الامة والوفاء لله تعالى في الحقيقة واتباع رسوله في الشريعة
(التعريفات : 59)
Definisi di atas ini disepakati jumhur ulama ahli sunnah wal jamaah, sebab mencakup aspek dan dasarnya tasawuf. Menurut al-Jurjani, tasawuf yang benar sesuai ikutan Rasulullah SAW itu tidak keluar dari syariat dan akidah. Maka wajar bila ada pendapat ulama, sebelum ke tasawuf (narekat) diharuskan mengerti dan menguasai fikih (sebagian besar isi dari syariat).
Imam al-Ghozali, mengartikan tasawuf lebih kepada konsistensi dan pendalamannya. Dalam kitab Ihya Ulumiddin (Juz 1 hal. 21) al-Ghozali telah menjelaskan berikut ini:
التصوف : قطع عقبات النفس و التنزه عن اخلاقها المذمومة و صفاتها الخبيثة حتى يتوصل بها الى تخلية القلب عن غير الله تعالى و تحليته بذكر الله
Definisi di atas lebih mengarah bahwa tasawuf pada intinya adalah menguatkan diri dalam memerangi nafsu, sebab karena nafsulah hati terhalangi dari proses “dicerahi” nurullah (cahaya Allah). Sering ini disebut meninggalkan yang diharamkan, yang syubhat, meninggalkan yang mubah dan istiqomah dalam ikutan yang sunah dan yang wajib. Orang “narekat” mengarah pada intinya, apa itu? Mendekati Allah ( مراقبة بالله ) agar bisa memasuki tingkatan maqomat (tahapan batiniyah, iman dan ruhaniyah). Seperti maqom al-mu’minin, hingga al-muhsinin atau dalam maqomat seperti al-mutawabin, al-muhibbin, al-shiddiqin hingga al-muttaqin.
Pada era milenial ini, bagaimana salah satu ilmu Islam ini bisa masuk di alam pikiran generasi milenial? Dari latar belakang sosial, psikologi dan politik, kini kita dapati fenomena tersebut sebagai “keriduan” pada yang natural atau original. Ingin beragama yang tidak kaku, ingin hidup bahagia, ingin ibadah yang tenang dan aman. Ruang spiritual yang terisi dengan ketenteraman, ketenangan, kebahagiaan dan tetap dalam jalan hidup yang benar.
Saya tertarik pada nasihat Syaikh al-Zarnuji dalam kitab al-Risalah bi Ta’limi al-Muta’allim (hal. 40 ) yang ditulis dalam bentuk syair:
كن للاوامر و النواهي # و على الصلاة مواظبا و محافظا
و اطلب علوم الشرع و اجهد و استعن # بالطيبات تصر فقيها حافظا
اطيعوا و جدوا ولاتكسلوا # و انتم الى ربكم ترجعون
Nasihat itu saya perhatikan tidaklah berat, semacam guidence (arahan) yang jelas, bahwa kata اطيعوا dan جدوا menjadi 2 kata yang ditekankan. Sederhana tapi cukup meluas pada aspek kehidupan baik hubungan dengan Allah ( حبل من الله ) maupun hubungan dengan sesama manusia ( حبل من الناس ). Intinya taat jika dalam kebenaran.
Bagaimana “narekat” atau “nyufi” di zaman kini (zaman milenial), apakah bisa? Apakah mampu dilakukan? Saya kira tidak ingin menggurui terkait bisa atau mampu. Tapi yang jelas macam narekat-nya kita tidak perlu ekstrem, tidak harus uzlah, tidak harus khalwat ke tempat-tempat sunyi dan sepi.
Imam Ahmad bin Athoillah al-Iskandary dalam kitab Miftahu al-Falah wa Mishbahu al-Arwah ( hal. 90 ) menjelaskan bahwa:
– تطهير النفس من كل خلق دنىء
Secara kekinian kita sebut membersihkan jiwa dari yang mengotori.
– المجاهدات البدنية من الجوع والعطش و العرى
Melatih badan dari ketergantungan makan dan minum karena tabiat manusia memang harus makan dan minum, serta inginkan kesenangan. Kita sederhanakan “lapar kagak bikin mati.”
– ترك الكونين من قلوبهم, و الايثار بما في ايديهم الى اخوتهم من خلق الله تعالى , والاعتماد على الله تعالى في جميع امورهم و الرضى بكل ما يجريه عليهم مما تكرهه النفوس و الصبر على الالام و الاغتراب عن الاوطان و هجران الخلاءق من غير اعتقاد السوء بل ايثارا للحق على الخلق , و قطع العلاءق و العواءق , والسعى في قضاء حواءج الناس بعد الفراغ من نفوسهم
Ini disederhanakan meninggalkan ketergantungan pada selain Allah swt.
– القناعة
Maksud qona’ah tidak lebih dari sikap merasa cukup, cukup dari yang berlebihan, dan menghindar dari yang melalaikan tujuan untuk dekat dengan Allah.
– الدعاء الى الله وفاء بالعبودية و الفقر و الذلة و الخشوع و الخضوع و التواضع لله تعالى لظهور الاسماء اللتي تقابل هذه الصفات
Selalu berharap kepada Allah (berdoa) dengan dasarnya ibadah, berharap kasih sayangnya Allah, menghinakan diri padanya, khusyu’ dalam ibadah, merendahkan diri kepadanya, serta merendahkan hatinya untuk tidak sombong pada Allah dan manusia. Tasawuf milenial tidak saya dimaksudkan mengganti dengan yang baru apa-apa yang sudah baku dalam ilmu tasawuf, yang baku dalam tarekat, dan yang biasa dalam suluk.
Perjelas bahwa hidup di zaman kekinian dengan ditandai perilaku hedonis, konsumtif, praktis dan instan, individualistis, kepura-puraan, hoaks, saling tuduh, dan saling hujat. Dan pada akhirnya berakhir pada titik kejenuhan. Manusia modern perlu asupan spiritualitas, nutrisi batiniyah untuk menjaga dari keterpurukan hidup, menjaga diri dari kerapuhan jiwa dalam menghadapi persoalan hidup.
Pada akhirnya, hidupnya manusia memerlukan arti, sementara arti yang sebenarnya adalah dekat dengan Allah SWT. Socrates bilang kira-kira begini “hidup yang tidak dimaknai tidak perlu dihidupi.” Dengan demikian, kita adalah anak zaman ini. Buatlah sejarahnya bahwa zaman tak bisa mengubah jati diri kita.
Wakil Ketua PW Ansor Banten
Menyukai ini:
Suka Memuat...