SERIKATNEWS.COM – Harga daging ayam dari tingkat peternak kini mulai menunjukkan perbaikan seiring adanya langkah pemangkasan produksi besar-besaran oleh pemerintah. Meski demikian, para peternak mengaku harga masih tetap fluktuatif dan kembali pada dalam tren menurun.
Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jawa Barat, Mukhlis, mengatakan bahwa harga di pulau Jawa menjadi yang terendah karena merupakan pusat produksi nasional. Khusus di Jawa Barat, harga sempat naik sesuai acuan, Rp19 ribu per kilogram (kg). Namun, kembali turun Rp18 ribu per kg, sedikit di bawah acuan.
“Benar sudah ada kenaikan dampak dari cutting telur di Sumatera, Jawa, dan Bali. Tapi tetap saja di Jawa agak berat,” ujar Mukhlis, seperti dikutip dari Republika, Senin (9/11/2020).
Menurutnya, rata-rata harga ayam di tingkat peternak di atas acuan, yakni Rp21 ribu – Rp25 ribu per kg. Sementara di Bali cukup stabil dihargai Rp22 ribu per kg.
“Kenapa? karena memang di sini pusatnya dan kembali ada pengurangan pengambilan stok ayam dari rumah potong hewan (RPH),” katanya.
Dalam satu provinsi di Jawa biasa mengambil pasokan ayam sebanyak 300 ribu ton atau 160 juta ekor per bulan. Mukhlis mengatakan, langkah pengurangan itu diambil karena harga kembali meningkat.
Menurutnya, ketika harga ayam kembali merangkak naik dan mencapai Rp18 ribu, pihak RPH akan mengurangi pengambilan demi menjaga harga penjualan ke level hilir. Hal itu dilakukan karena RPH akan sulit bersaing jika harga yang digunakan terlalu tinggi.
“Dengan harga Rp18 ribu per kg, dia tidak bisa bersaing karena harga jualnya bisa Rp23 ribu-Rp25 ribu, sementara sekarang dijual Rp20 ribu dari RPH,” kata Mukhlis.
Hal tersebut menyebabkan kembalinya penumpukan ayam di level peernak. Sementara itu di tengah iklim La Nina, situasi diperparah dengan banyaknya pasokan ayam hidup yang terkena penyakit. Situasi itu justru dimanfaatkan oleh para makelar untuk menciptakan kenaikan harga.
Seperti diketahui, harga ayam di pasar kembali merangkak naik. Di sejumlah daerah bahkan Ketua Pinsar Jawa Tengah, Pardjuni mengatakan, situasi riil di peternak belum banyak berubah.
Senada dengan Mukhlis, Pardjuni mengatakan bahwa kenaikan harga ayam di tingkat peternak tidak tinggi, sehingga ada kemungkinan harga dipermainkan makelar jika harga di pasar dirasa naik.
“Kalau harga dari kandang saja Rp23 ribu – Rp24 ribu per kg, seharusnya menjual karkas di pasar Rp36 ribu – Rp38 ribu saja sudah untung,” ujarnya.
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...