Hommage a Farida Oetoyo: Penghargaan untuk Farida Oetoyo

263

Farida Oetoyo (7 Juli 1939), seorang tokoh, legenda dan ibu ballet Indonesia, ballerina Indonesia pertama yang masuk dan lulus dari akademi ballet bergengsi Bolshoi Rusia. Beliau pula yang membentuk ballet nasional bersama tokoh ballet Indonesia lainnya sebagai pendidik tari membentuk sekolah Ballet Nritya Sundara dan Ballet Sumber Cipta, serta membentuk grup tari kontemporer Kreativitas Dans Indonesia bersama Chendra Panatan & Yudhistira Sjuman pada tahun 1990. Beliau juga aktif mengembangkan kesenian melalui kiprahnya sebagai Direktur Artistik Gedung Kesenian Jakarta dari tahun 1987 hingga 2001 dan pernah menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta.

Penghargaan untuk Ibunda Ballet Indonesia “Hommage a Farida Oetoyo” ini dirayakan tepat pada tanggal ulang tahun beliau yang ke-80 tahun jika beliau masih hidup. Diproduksi khusus oleh Ananda Sukarlan Center dan diprakarsai oleh Chendra E. Panatan yang merupakan murid ballet Ibu Farida sejak tahun 1987, show ini diadakan di Raffles Hotel, Minggu 7 Juli siang. Dimulai dengan ziarah ke makamnya pagi hari, kemudian makan siang pukul 12.30 dan pertunjukan pukul 2 siang. Bentuk penghargaan khusus ini adalah dengan menampilkan karya ballet kontemporer beliau “TOK” serta penampilan dari ballerina muda Indonesia yang sangat menjanjikan untuk masa depan ballet Indonesia tampil di panggung dunia, seperti yang diimpikan oleh Ibu Farida: Mengibarkan bendera Merah Putih di panggung balet dunia.

Mereka adalah ballerina muda berbakat Indonesia yang telah ‘Go International”: Nadia Mulyono (USA), Jemima Vaya (Georgia), Shalama Qowlam Fadila (Russia), Agnes Indira Mayrani (Australia), Ann Bella Yo, Davit Fitrik dan Ari Prajanegara dengan dukungan dan kerja sama dari Marlupi Dance Academy, The Ballet Academy at Casagaya, Speranza Dance Studio dan Ballet Sumber Cipta.

Baca Juga:  Mohammad bin Salman, Sosok Kunci dalam Reformasi Arab Saudi

Selain itu, penampilan pianis & komponis kenamaan Indonesia, Ananda Sukarlan juga membuka lembar baru dalam dunia ballet Indonesia, dengan karya musik klasik Indonesia yang memberi jati diri Ballet Indonesia. Ada 2 karya tari khusus yang diciptakan oleh Chendra Panatan, yang secara khusus didedikasikan untuk Ibunda ballet Indoneia berdasarkan musik Ananda: “Airport Blues” & “Urip Iku Urup”. Juga ada beberapa tarian ballet lainnya karya Jetty Maika: “Lonely Child” untuk Jemima Vaya, karya Fifi Sijangga: “Rondo” untuk Agnes Indira Mayrani selain maha karya ballet klasik berdasarkan ballet dari “The Nutcracker” dan “Don Quixote” karya Marius Petipa.