Sejak masih belajar di madrasah, saya satu di antara murid yang terpukau untuk pertama kalinya pada sosok penyair baladis Chairil Anwar, puisi karyanya berjudul “Aku” saat itu hafal di luar kepala. Bahkan puisi Karawang-Bekasi tak bosan-bosannya dibacakan meski di kamar mandi.
Beranjak, dari kegemaran terhadap karya puisi Chairil Anwar rupanya berlanjut ke karya puisi W. S. Rendra (nama lengkapnya Willibrodus Surendra Brotu ). Judul puisi “Terbunuhnya Atmo Karpo”, kira-kira itu judul puisinya. Bagiku sangat berkesan, seperti tengah memancing imajinasiku untuk bisa seperti Rendra.
Tahun kedua, di bangku SLTP (Madrasah Swasta di Serang) terus tumbuh kegemaran untuk membaca karya-karya para penyair Nusantara, antara lain Kuntowijoyo, Umar Kayam, Sutarji Cholzum Bahri dan puisi-puisi bertepak potret sosial seperti karya Taufik Ismail, dan Romo Mangunwijaya. Bahkan tak jarang membaca kumpulan puisi Cecep Zam-zam Noer putera Rois ‘Am PBNU KH. Ilyas Ruchiyat Cipasung Tasikmalaya.
Pertengahan dekade ’90-an kegemaranku membaca karya-karya sastra tak terbendung, seperti karya Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (Hamka), Salah Asuhan, Siti Nurbaya dan Ronggeng Dukuh Paruk. Saat 1997, nalar terus bekelana hingga membaca karya William Shakespeare seperti Hamlet, Romeo dan Juliet. Jauh sebelum Harry Potter karya J.K Rawling yang fenomenal di awal dekade 2000-an. Beranjak pada karya-karya sastra anak negeri seperti novel-novel Kang Abik, dan Andrea Hirata. Bahkan penasaran pula membaca Balada Si Roy karya sastrawan besar dari Banten mas Gong (Golagong Penulis), tanpa memberitahu beliau banyak karyanya yang indah dan kaya akan diksi yang saya baca.
Beralih, ketika mesantren di Cibeureum Goalpara Sukabumi, kecintaan akan sastra Indonesia tertahan saat mempelajari ilmu al-‘Arudl (ilmu melagu dan menulis syiir Arab), saking asik dan senangnya terhadap sastra Arab semakin lupa akan sastra Indonesia. Padahal umur segitu mungkin belum bisa konsisten. Kadang ada sisi benci atas sastra Indonesia. Meski diakui dan dirasakan karya satra para sastrawan Indonesia jauh lebih estetik dan meresap.
Ilmu ‘Arudl, sangat populer di pesantren-pesantren salafi (ciri pesantren NU), karena santri seringnya menghafal nadhoman, di antara cakupan ilmu tersebut. Dalam ilmu Nahwu ada kitab Mulhat al-Irob, al-Imrithi, dan Alfiyah Ibnu Malik, bidang shorof ada Nadhmu al-Maqshudi, dalam fiqih ada Matan al-Zubad, dan Matan al-Ruhbiyah. Dalam bidang Balaghah ada di kitab Jauhar al-Maknuni, dalam bidang ilmu hadits ada Alfiyah Hadits.
Menilik kegemaran sang Imam Mujtahid Muthlaq (al-Imam al-Mujtahid al-Mustaqil Muhammad bin Idris al-Syafei) ternyata pada syiir Arab, hingga belajar sastra Arab pada ulama suku Baduwi Arab sampai 2 tahun. Sampai kemudian sang imam menyusun syairnya tersebut di kitab Diwan al-Syafei.
Dalam kitab al-Tuhfah al-Mardliyyah, Syaikh Abdul Majid al-Adwy menulis syair yang cukup “berbisa” dan seoalah men-dehumanisasi pribadi ini yang dloif.
الناس من جهة التمثيل اكفاء # ابوهم ادم و الام حواء
فان يكن لهم في اصلهم شرف # يفاخرون به فالطين و الماء
اذا اكمل الرحمن للمرء عقله # فقد كملت اخلاقه و ماربه
وافضل قسم الله للمرء عقله # فليس من الخيرات شيء يقاربه
يعيش الفتى في الناس بالعقل انه # على العقل يجرى علمه و تجاربه
Kumpulan syair di atas itu mengandung filosofi kemanusiaan, dengan pikiranlah manusia punya nilai.
Kritik sastra, lebih dipahami sebagai kritik terhadap suatu fenomena sosial, terhadap isu-isu ketidakadilan, kronisnya korupsi yang ditulis oleh para sastrawan melalui ruang bernama puisi, novel dan cerpen.
Entah mengapa? Hanya beberapa sastrawan yang giat lakukan kritik sosial, kritik atas perilaku korupsi. Yang lain di mana? Belakangan ini belum lahir neo Rendra, Chairil Anwar, Sapardi Joko Damono. Apakah anak-anak milenial sudah meninggalkan sastra? wa Allahu A’lam. Jawabku Miris.
Wakil Ketua PW Ansor Banten
Menyukai ini:
Suka Memuat...