Connect with us

Resensi

Meneladani Pahlawan Nasional di Bidang Sastra

Published

on

© Net

Judul: Paradoks Amir Hamzah
Penulis: Tim Tempo
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan: I, April 2018
Tebal: xiii + 129 Halaman
ISBN: 978-602-424-828-4

Mengusung tema politik dan tokoh seni (sastrawan) sebagai objek adalah tema yang dapat menarik berbagai kalangan. Tak hanya akademisi, mahasiswa, peneliti, dan peminat sastra bahkan sejarawan dapat menjadi buku ini sebagai referensi bacaan. Buku ini berisi tentang pengungkapan pembunuhan pada Amir Hamzah. Pengungkapan pembunuhan dipaparkan ke berbagai bagian.

Bagian pertama menceritakan Amir Hamzah sebagai tokoh revolusioner yang tergilas pada masanya. Kedua, Amir Hamzah yang terjepit di antara dua gelombang. Gelombang pertama Amir Hamzah sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan dan di gelombang lain Amir Hamzah sebagai keturunan Sultan dan Abdi Negara Pelayang. Hal tersebutlah yang membuat Amir terjepit. Ketiga, Amir sebenarnya telah menginginkan kemerdekaan sejak belia. Sejak ia masih bersekolah, segala organisasi yang berbau nasionalisme ia geluti sampai-sampai ia menentang secara manis orang-orang di istana. Ia mencoba cara yang lebih manis di mana pergerakannya tidak dapat terlihat oleh Sultan Langkat dan pemerintah Belanda.

Amir mencoba menjunjung bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi dengan harapan hal itu membawa suatu pergerakan dalam kemerdekaan Indonesia dari Pemerintah Belanda. Tetapi, biar Amir Republikan sejak belia, orang-orang yang berjuang dalam revolusi ini menganggap Amir pengkhianat hingga akhirnya Amir dibunuh secara gelap mata.

Pada bagian keempat dan kelima, diceritakan masa kecil Amir Hamzah yang sudah berada dalam lingkungan kesultanan dan cerita asmara yang kandas karena perintah Sultan. Bagian akhir disebutkan Amir Hamzah sebagai pelopor gerakan bahasa baru melalui puisi-puisinya. Lalu cerita mengenai keterlibatannya dalam Majalah Poedjangga Baroe. Dan terdapat juga kolom puisi.

Baca Juga:  Ujian Kehidupan Melalui Novel Inspiratif

Dalam buku Pahlawan Nasional Amir Hamzah, Sagimun Mulus Dumadi menyebut Amir sebagai golongan man of thought and inspiration. “Orang-orang yang dengan daya pikir dan daya ciptanya mampu menggerakkan atau menggetarkan hati ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan orang. Bahkan, Sejarawan Nugroho Notosusanto juga memasukkan Amir ke golongan a drop of ink makes millions thing. Artinya, setitik tinta membuat berjuta-juta orang berpikir” (hal 93).

Dari sejarah sejak kecil, Amir Hamzah sudah mencintai dunia sastra. Sejak tahun 1920-an, ia sudah berupaya meninggalkan bahasa Belanda. Ketika ia menulis prosa, puisi dan prosa liris dalam bahasa melayu, cikal bakal bahasa Indonesia. Dikenal sebagai raja penyair pelopor gerakan bahasa baru, Amir Hamzah dan dua orang tokoh sastrawan Amrijn Pane serta Sutan Takdir Alisjahbana mendirikan majalah Poedjangga Baroe pada 1933. Tahun itu juga, Amir Hamzah mengenali masa-masa sulit dirinya.

Tahun 1931, Tengku Mahjiwa, ibu Amir Hamzah meninggal. Menyusul kemudian ayahnya, Tengku Muhammad Adil meninggal pada tahun 1933. Sejak ayahnya tiada, Amir Hamzah mengalami kesulitan ekonomi. Kesibukannya mengajar di berbagai tempat tidak dapat menutupi kebutuhan hidupnya di Batavia.

Selanjutnya, biaya hidup Amir Hamzah ditanggung oleh pamannya, Sultan Mahmud. Ironisnya, bantuan pendidikan dari pamannya itu tidak gratis semata-mata. Dengan syarat tidak boleh berpacaran dan aktif di pergerakan, setiap gerak-gerik Amir Hamzah selalu diikuti oleh orang suruhan pamannya.

Amir Hamzah, tetaplah manusia yang di dalam dirinya sepenuhnya berisi perjuangan untuk republik Indonesia. Ia tetap bergaul dengan Muhammad Hatta, Soebardjo dan Muhammad Yamin. Ia tetap menulis di majalah Poedjangga Baroe. Ia juga menjadi guru untuk orang-orang pribumi, di Perguruan Rakyat, Taman Siswa juga di sekolah Muhammadiyah. Bersama dengan Ilik Sundari, mereka acap turun ke kampung-kampung untuk mengajar. Bagi mereka, mencerdaskan rakyat adalah bagian dari proses menuju kemerdekaan.

Baca Juga:  Mencapai Indonesia Merdeka

Tahun 1938, Amir Hamzah dipanggil pulang ke Langkat oleh pamannya. Ia juga dinikahkan dengan Tengku Kamaliah, putri tunggal Sultan Langkat. Tahun 1946, terjadi revolusi sosial di Sumatera Timur, 7 Maret 1946, para pemuda menangkap Amir di rumahnya. Amir dituduh pro-Belanda oleh para pemuda sosialis. Tuduhan pro Belanda ini karena Amir merupakan orang yang dekat dengan Sultan, bahkan menantunya. Selama dua pekan, Amir tiga kali berpindah kurungan, dari rumah tahanan Binjai, Kebun Lada, sampai perkebunan Kwala Begumit, sepuluh kilometer di luar Binjai, penyair pujangga baru itu dieksekusi pada 20 Maret 1946 setelah disiksa di tempat terakhir bersama tahanan lain.

Ironis Amir Hamzah dieksekusi oleh guru silat kesultanan, pengurus kebun yang amat ia sayangi, Ijang Widjaja. Kesimpulan dari kehidupan Amir Hamzah adalah keteladanan menjadi sumber pelajaran untuk menjalani apa yang ditekuni dan mendapatkan penghargaan hasil perjuangan sebagai pahlawan nasional.

Advertisement

Popular