Aku Ini Punya Siapa?

65

Perjalanan spiritual katamu? Aku sudah mendaki 7 gunung yang kau bilang akan menenangkan hatiku yang sedang gundah. Pendakian Sumbing malam itu hampir mencelakakanku. Tak ku sangka treknya sangat curam, dan energiku sudah habis setelah Slamet dan Sindoro. Misi yang muluk-muluk memang, tapi itu semua kulakukan demi menentukan pilihan. Kamu, dia atau tunanganku.

Ia baca lagi email yang akan ia kirim kepada Bintang, sahabat yang akibat pelarian terhadap Rendi, tunangannya akhirnya menjadi kekasih gelap. Pernikahannya tinggal menghitung bulan seiring cinta satu malamnya dengan Josh yang ternyata berubah serius. Bukan persoalan mudah untuk memilih dari ketiga lelaki yang tak ada kemiripan kepribadian satu dan yang lainnya itu.

“Lara, kamu ga kawin-kawin kalo nyari yang sempurna”, kata Miranda sambil menempelkan pembatas buku di chapter terakhir novel Lauren Weisberger terbaru, The Wives.

“Dip into an irresistible cocktail of sex, lies and scandal? Hhmm wish I could do that. But no, not with the lies, not with the scandal. Just… Sex”, seolah tak mendengar ucapan sahabatnya, ia membaca review novel yang bersampul pink itu.

“Heiiiii pilih satu dulu, baru main-main”, Miranda meraih kembali bukunya dari tangan Lara.

“Ohhh Mir, aku bukannya tidak berusaha untuk menentukan satu. Susah Mir, susah”, Lara menghempaskan dirinya ke ranjang. Tubuhnya luruh dimakan letih.

“Trus, rencana selanjutmu apa? Kamu pikir dengan naik 7 gunung itu kemudian dapat wangsit? Bisa nentuin pilihan? Aku hampir saja terbang ke Jogja buat jemput kamu”, lanjut Miranda.

“Iya, maaf, aku salah, terlalu maksa. Di gunung aku lihat bintang Mir, kelap-kelip, seolah mengajakku berdialog. Aku bisa jelas lihat milky way, aku tiduran menatap langit yang teduh dan tak berbatas itu. Aku berpikir mungkinkah Bintang jawabannya? Ide-nya membuatku mendaki 7 gunung di Jawa Tengah rupanya berhasil. Aku akan memilihnya. Aku lega, ingin memeluknya saat itu juga. Tapi kemudian kabut datang menyapu pandanganku. Wajahku dingin, air mataku menetes, bukan karena menangis tapi karena pedas oleh kabut yang semakin pekat dan dingin yang semakin menusuk ke tulang-tulangku. Pak Pitut, setengah menyeretku untuk kembali ke tenda. Di situ aku tersadar. Bukan, bukan Bintang karena kemudian ia tak tampak lagi”.

Baca Juga:  Rembulan Di Mata Ibu

Miranda terharu mendengar cerita Lara. Lara yang ia kenal sejak sekolah dasar. Lara yang selalu mengejar semua impiannya. Lara yang tegas menolak segala hal yang terasa janggal dan tak sejalan dengan pikirannya. Lara yang hidup tanpa pagar, bisa melakukan apa saja menembus garis-garis ruang dan waktu. Lara yang tak pernah setia terhadap satu laki-laki saja.

“Mir, mungkin saja jodohku bukan satupun dari mereka”.

“Oh Lara, please”.

“Mir. Malam itu di Prau bukan pak Pitut yang menyeretku masuk ke tenda.”

“Maksud kamu?”

“Yang lain sudah tidur semua. Besok paginya tidak ada yang tahu. Aku pikir pasti mereka bercanda, tapi aku ingat aroma jaket orang itu. Aroma pinus, segar. Aku harus kembali ke sana. Aku harus dapat identitasnya. Mungkin dia jodohku”.

“Aduh sinting kamu”.

Dua minggu berlalu. Lara datang kepada Mira dengan wajah tanpa harapan.

“Mir, namanya Gusti. Umurnya 35. Lulusan Stanford. Kerja di Bursa. Single. Bintangnya scorpio.  Rumahnya di Duren Sawit, dia…. “, Lara menatap wajah sahabatnya yang tengah mendengarnya penuh seksama. “Dia sudah meninggal, Mir. Karena jantung”.

“Ohhh honey. I’m so sorry to hear that.

Don’t you see it, Mir? Jodohku sebenarnya masih di luar sana”.

“Ooh Lara…”

Gunung, kau bilang akan membiarkan pikiranku mengembara, tinggi, kemudian bersemayam di salah satu ranting. Gunung, kau bilang akan membuatku besar hati, seperti pohon-pohon Akasia di Prau yang membiarkan akar-akarnya menjalar penuh kemegahan yang menjadikannya tangga hingga ke puncak. Gunung, gejolak di dalam diri mereka akan selalu menjadi rahasia Ilahi.

Perlahan ia tutup Macbook-nya. Merebahkan diri di sofa. Ia ambil I-phone, mulai menulis pesan…

Baca Juga:  Caleg (2)

Yth Ibu.

Maafkan Lara. Lara akan batalkan pertunangan dengan Rendi. Lara tak cinta lagi. Atau mungkin, tak pernah cintai Rendi, begitu pun sebaliknya. Percayalah Bu, tanpa Rendi mengucapkannya, Lara tahu. Di perjalanan kami ke Bangkok beberapa waktu lalu membuat yang abu-abu itu menjadi terang seperti purnama. Maafkan Lara, Ibu….

Lara, satu yang belum kamu sadari. Gunung menyadarkanmu akan arti kesetiaan. Setia kepada bumi, berani seperti matahari. Selamat sayang, you have made me proud, Bintang tersenyum lega, campur bangga. Semoga email balasannya itu akan cukup menenangkan Lara dan membuatnya memilih dirinya.

“Trus, Joshua bagaimana?”, Mira yang masih menyesalkan keputusan Lara membatalkan pertunangannya dengan Rendi mencoba memperkecil probabilitas pengembaraan yang tengah dijalani Lara.

“Dia ke Indo 3 bulan sekali. Kami tak pernah bahas pernikahan. Dia pernah gagal. Perhitungannya pasti lebih matang untuk ngawinin aku”.

“Cinta kau sama dia?”

“Sangat Mir. Aku hanya butuh waktu untuk benar-benar yakin, aku ini milik siapa”.

Seseorang mengetuk pintu rumah Lara. Kiriman paket belanja pelengkapan outdoor yang ia pesan telah tiba. Dicobanya semua, bak seorang model yang beralih profesi sebagai professional hiker. Mira tersenyum geli melihat kelakukuan Lara. Gunung memanggilnya. Ia lantas berkemas. Terhadap pertanyaan besarnya selama ini, ia telah temukan jawabannya…

END