Penulis: Ilyas Mahpu
Kamis, 8 April 2021 - 22:45 WIB
SERIKATNEWS.COM – Mbah Gito, juragan bakmi jawa di Kotagede Yogyakarta membangun joglo berukuran raksasa di tanah kelahirannya di Gunungkidul. Oleh Mbah Gito, kawasan joglo tersebut dinamai Joglo Tri Yakso Mbah Gito. Saking besarnya bahkan layak disebut sebagai mahakarya Mbah Gito. Berdiri di atas tanah seluas 9.500 meter tepatnya berada di Karanglor, Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul, sekitar 45 km dari pusat kota Yogyakarta.
Joglo megah mulai dibangun September 2017 kini mencapai 80%. Susunan bangunannya sesuai dengan pakem Jawa. Terdapat ruang lintring, joglo, dan limasan.
Uniknya, cagak joglo menggunakan kayu besar. Bahkan lingkaran kayu cagak tersebut ada yang mencapai lebih dari satu meter. Selain besar, cagak-cagak itu terpahat tokoh-tokoh nasional, seperti Pangeran Diponegoro, RA Kartini.
“Saya bukan arsitek, hanya lulusan SD. Ide-ide ini merupakan inspirasi waktu kecil bikin gubuk di sawah saat jaga padi dari kawanan burung,” ujar pemilik nama lengkap Sugito saat ditemui serikatnews.com, Rabu, 07 April 2021.
Dalam membangun joglo, Mbah Gito tak terpaku pada teori. Ia mengaku lebih banyak menggunakan intuisi. Namun, diperkirakan kekokohan bangunan bisa menahan guncangan gempa 7,5 SR. Joglo Tri Yakso bisa menjadi ruang serba guna. Khususnya untuk acara seni budaya. Sebab di dalamnya terdapat Sasana Seni Budaya Ndesane Mbah Gito. Suatu wadah untuk pengenalan dan olah kemampuan seni budaya, seperti karawitan dan wayang.
Mbah Gito melestarikan seni budaya desa lewat Sasana Seni Budaya Ndesane Mbah Gito (Foto: Mahpu/Serikat News)
Di atas tanah milik pribadi, Mbah Gito juga mempersembahkan 8 unit rumah budaya ndesa. Karena baginya, rumah ndesa merupakan rumah masyarakat jawa masa lalu yang layak dipertahankan dan diperkenalkan ke generasi muda.
Di samping 8 unit rumah budaya ndesa, terdapat satu joglo lagi terbuat dari kayu jati. “Joglo jati di belakang bisa digunakan untuk acara resepsi dan pementasan kesenian seperti tari,” tutur Mbah Gito.
Mbah Gito menuturkan, kawasan Joglo Tri Yakso akan dijadikan pusat kuliner ndesa. Tidak hanya menu-menu desa, seperti gudeg dan tahu bacem. Tetapi, cara memasaknya pun menggunakan perlatan tradisional, seperti dandang, kukusan, dan kekeb, kendil, memasaknya menggunakan kayu bakar.
Dikatakan Mbah Gito, joglo raksasa tak berdiri dalam sekejap mata. Butuh niat, semangat, kesabaran, ketelatenan. “Jika gagal, jangan menyerah, apa pun yang dilakukan. Diulang-ulang hingga berhasil,” pesan Mbah Gito.
Membangun joglo raksasa, lanjut Mbah Gito, tidak semata-mata untuk mencari keuntungan. Mbah Gito ingin berkontribusi kepada masyarakat. Lebih-lebih bisa berkontribusi ke pemerintah, khususnya dalam melestarikan kebudayaan desa. (Ilyasi)
DI SEBUAH kota kecil di Cirebon, perjalanan intelektual seorang santri dimulai dari rutinitas pesantren yang sederhana: menghafal kitab, belajar falak,
PROBOLINGGO – Kamal, mantan narapidana kasus terorisme asal Probolinggo, berbagi pesan Ramadan yang menarik perhatian. Ia menegaskan pentingnya menahan diri,
BANDUNG – Perjalanan bisnis Sinta Trisnawati membuktikan bahwa kegigihan dan inovasi dapat mengantarkan seseorang menuju kesuksesan. Bermula dari usaha jasa
PAMEKASAN – Media sosial Pamekasan belakangan diramaikan dengan candaan seputar kemiripan nama antara Wakil Bupati Pamekasan terpilih, H. Sukriyanto, dengan