Opini

Minangkabau Pasca PRRI

Foto: merdeka.com

Akibat ketidakpuasan daerah pada pemerintah Sukarno PRRI meletus. Pemberontakan ini didukung oleh PSI dan Masyumi dan disusupi oleh CIA. Akibat pemberontakan PRRI, TNI dikirim ke Sumatera Barat untuk menumpas PRRI. Dampak dari peristiwa itu adalah OPR (Organisasi Perlawanan Rakyat) yang didukung PKI melakukan tindakan sewenang-wenang kepada rakyat kebanyakan. Terjadi gesekan masyarakat antara pendukung komunis dengan pendukung PRRI. Keduanya adalah orang minang. Masyarakat Minangkabau terbelah. Harun Zain bekas TRIP diangkat Sukarno menjadi Gubernur.

Sementara itu di pusat, PKI tunduk pada Sukarno. TNI juga terbelah antara pendukung dan penentang komunis. PKI dituduh akan mengambil alih kekuasaan karena Sukarno tengah sakit keras. Meletuslah peristiwa G 30 S, dimana 7 Jenderal diculik oleh pasukan Tjakrabirawa yang dipimpin oleh Kolonel Untung. Jenderal Nasution lolos dari maut karena melarikan diri. Suharto dari Kostrad mengambil alih keamanan ibukota dan memburu pelaku.

Aidit tewas. PKI hancur, Sukarno jatuh, ABRI mengambil alih kekuasaan. Sultan Hamengkubuwono IX mendukung Suharto. Begitu juga dengan Adam Malik. Pasca Suharto diangkat jadi presiden, Adam Malik diangkat menjadi Menteri Luar Negeri. Orang Minang yang anti PKI melihat pergantian rezim ini kesempatan untuk menyingkirkan pendukung PKI dan memulihkan kembali negeri yang hancur. Masyarakat yang lesu akibat PRRI, ditambah lagi teror PKI mengambil peluang ini. Orang-orang PKI diganyang. Begitu juga orang-orang PKI di seluruh Indonesia.

Baca Juga: Iklan Bilih, Ikan Kulari

Tidak hanya PKI yang digayang, tapi juga pemikiran marxisme, termasuk juga pemikiran madilog. Orang PSI yang juga diserang oleh PKI terutama benturan yang keras antara lekra dengan manifes kebudayaan, mengambil peluang atas pergantian rezim ini. Namun pelarangan marxisme sebagai sebuah pemikiran tidak mendapat perlawanan dari PSI. PSI menjadi partai tanpa ideologi marxisme.

PSI, Masyumi, Murba, ketiga partai ini tidak dipulihkan Suharto. Adam Malik sendiri tidak mampu mencegah pelarangan buku Madilog oleh rezim yang didukungnya walaupun dia mampu mencapai posisi menjadi Wakil Presiden. Sebuah pemikiran kritis telah dibungkam. Generasi sesudahnya tidak mengenal lagi pemikiran materialisme dialektika, tesis-antitesis-sintesis sebagai metode pemikiran yang tajam menjadi terlupakan.

Sumatera Barat menjalankan jaman pembangunan, rezim Orde Baru. Adem ayem tanpa gejolak. Pelita demi Pelita. Harun Zain, Azwar Anas, Hasan Basri Durin. Sementara di Jakarta pendukung Suharto mulai menentangnya yang diawali dengan Peristiwa Malari 1974. Nasution, Ali Sadikin, Natsir bergabung dalam Petisi 50. Gerakan oposisi pelan-pelan sedikit demi sedikit menguat. Sukarno juga bangkit dari dalam kubur masuk ke dalam sosok PDIP yang diketuai Megawati. Ketua NU dan Muhamadiyah juga ikut berpolitik.

1998 Suharto tumbang.Buku-buku yang dilarang bermunculan. Termasuk Tan Malaka. Madilog bangkit kembali dari kubur. Tapi hingga hari ini Marxisme belum dicabut karena takut oleh hantu PKI walau Gus Dur pernah mencobanya namun tidak berhasil, dan partai yang berideologi Marxisme kena  getahnya. Pendukung kapitalisme memang masih takut hingga hari ini pada sebuah ideologi yang melakukan antitesis atas filsafat yang melandasinya.

Ingatan kolektif masyarakat pada PDRI dan PRRI masih kuat sampai hari ini sehingga partai yang identik dengan Sukarno akan sulit untuk mendapat kemenangan dalam pemilu di Sumbar. Figur Tan Malaka hanya dikenal oleh sedikit orang dibandingkan sosok Proklamator Bung Hatta atau Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang menjadi oposisi keras Sukarno di akhir kekuasaannya. Revolusi Belum Selesai dan Trisakti yang digaungkan Sukarno bagaimanapun adalah ide yang berasal dari Tan Malaka melalui peran Wakil Perdana Menteri Chaerul Saleh dan kawan-kawan dari Partai Murba, sebagai kelanjutan oposisi kelompok Persatuan Perjuangan atas perjanjian KMB yang ditandatangani oleh Perdana Menteri Mohamad Hatta.

Sementara itu visi Madilog Tan Malaka mengenai sumbu Bonjol-Malaka sebagai poros Aslia tanpa disadari mewujud melalui pertumbuhan ekonomi di propinsi Sumatera Barat, Riau, Pantai Timur Sumatera, Malaka dan Negeri Sembilan yang menjadi rantau orang Minang. Selat Malaka sebagai kawasan lalu lintas laut yang paling ramai di dunia saat ini  telah menjadikan Singapura sebagai pelabuhan Samudera yang paling ramai.

Penulis adalah anggota Tan Malaka Institute (TMI)

Popular

To Top