Pendahuluan
Taman Kanak-kanak (TK) adalah salah satu lembaga formal yang bertujuan memberikan pengetahuan dan pembelajaran awal kepada anak-anak guna mengembangkan kepribadian anak serta mempersiapkan mereka memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Sebagian orang menganggap bahwa TK itu sama dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), padahal keduanya memiliki arti yang berbeda. Materi yang diajarkan keduanya pun berbeda.
PAUD ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun. Hal ini ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 ayat 14 yang menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membentuk pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Sedangkan TK merupakan bentuk pendidikan anak usia dini yang berada pada jalur pendidikan formal, sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 28 pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-Kanak (TK), Raudhatul Athfal, atau bentuk lain yang sederajat. Jadi, TK adalah salah satu bentuk dari PAUD.
Berdasarkan hasil pengamatan awal di kelompok B TK Mardi Putra Tahun Pelajaran 2017-2018 menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan membaca permulaan anak di sana masih kurang lancar. Hal ini dikarenakan pemberian stimulasi kemampuan membaca permulaan pada anak kelompok B dengan cara memberi kalimat kompleks tanpa disertai dengan media atau alat bantu yang mendukung pembelajaran. Artinya guru hanya menjelaskan secara konvensional yang tidak menggunakan alat bantu apa pun. Tentu ini akan mengakibatkan pemahaman anak menjadi beragam. Contoh, ketika guru mengajarkan tentang kata “BUDI” maka guru hanya menyuarakan dan siswa langsung mengikuti guru. Sebagian besar anak belum jelas menyuarakan huruf “b” dan huruf “d”. Hal ini disebabkan karena anak masih mengalami kebingungan dalam membedakan bentuk dan bunyi huruf tersebut.
Dalam hal ini, penulis memanfaatkan media komik strip untuk mengembangkan kemampuan membaca permulaan pada anak. Komik strip adalah media belajar yang sangat menarik dan erat dalam kehidupan anak. Menurut Laksana (2017 : 378) Komik Strip (Comic Strip) adalah komik yang hanya berisi beberapa panel gambar saja, tatapi tidak meninggalkan esensi dari isi komik tersebut, biasanya komik strip digunakan untuk mempertegas atau menjelaskan sesuatu dan kebanyakan muncul di majalah, surat kabar, maupun media lainnya.
Media komik strip sangat berperan sebagai alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan pembelajaran. Dalam konteks ini pembelajaran merujuk sebuah proses komunikasi antara pembelajaran dan sumber belajar (komik). Komunikasi belajar akan berjalan dengan maksimal jika pesan pembelajaran disampaikan secara jelas, runtut, dan menarik.
Jenis komik strip ini paling cocok digunakan dalam penerapan pembelajaran sebagai alat bantu. Alur cerita yang ditawarkan pun tidak terlalu berputar-putar tetapi langsung tepat sasaran, dengan menggunakan materi pelajaran sebagai bahannya. Komik strip memiliki banyak keuntungan dalam proses pembelajaran, di antaranya (Laksana, 2017: 433):
- Alur cerita lebih sederhana.
- Content yang diberikan sangat jelas.
- Menarik untuk dibaca/menumbuhkan minat membaca.
- Proses pembuatan relatif lebih cepat.
Setiap anak pasti akan senang dan bersemangat jika melihat gambar yang penuh warna, apalagi jika dalam komik tersebut terdapat tokoh-tokoh yang digemari oleh anak-anak. Dari beberapa alasan pemilihan media di atas, maka dirasa tepat untuk menggunakan komik strip sebagai media untuk mengembangkan kemampuan membaca permulaan pada anak. Apakah pembelajaran menggunakan media komik strip terbukti dapat mengembangkan kemampuan membaca permulaan pada anak di kelompok B TK Mardi Putra?
Menurut Dhieni, dkk (2008: 5.5), membaca permulaan adalah suatu kesatuan kegiatan yang terpadu mencakup beberapa kegiatan seperti mengenali huruf dan kata-kata, menghubungkannya dengan bunyi, maknanya, serta menarik kesimpulan mengenai maksud bacaan. Sedangkan menurut Steinberg (dalam Susanto, 2011: 90), kemampuan membaca anak usia dini dapat dibagi atas empat tahap perkembangan penting yang meliputi:
- Tahap timbulnya
- Tahap membaca gambar
- Tahap pengenalan bacaan
- Tahap membaca lancar
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan pada 18 anak yang terdiri dari 11 anak perempuan dan 7 anak laki-laki, perkembangan kemampuan membaca permulaan menggunakan media komik strip inovatif pada anak kelompok B TK Mardi Putra Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung pada pelaksanaan pratindakan hingga siklus I, II dan III mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat pada tabel hasil penilaian kemampuan membaca permulaan menggunakan media komik strip dari pra tindakan sampai sengan tindakan siklus III:
|
No |
Hasil Penilaian Perkembangan Anak |
Keterangan |
| Pra Tindakan |
Siklus I |
Siklus II |
Siklus III |
| % |
% |
% |
% |
| 1 |
¶ |
28 |
6 |
0 |
0 |
| 2 |
¶¶ |
56 |
44 |
28 |
17 |
| 3 |
¶¶¶ |
16 |
50 |
61 |
50 |
| 4 |
¶¶¶¶ |
0 |
0 |
11 |
33 |
|
Jumlah |
100 % |
100% |
100 % |
100 % |
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa dari pra tindakan dengan persentase ketuntasan sebesar 16% persentase ini belum dikatakan berhasil dikarenakan belum melebihi kriteria minimal yaitu 75%. Pada pelaksanaan siklus I mengalami peningkatan yaitu dengan persentase sebesar 50%. Persentase ini belum dikatakan berhasil dikarenakan belum melebihi kriteria minimal yaitu 75%. Kemudian setelah dilakukannya siklus II mengalami persentase ketuntasan sebesar 72%. Persentase ini belum dikatakan berhasil dikarenakan belum melebihi kriteria minimal yaitu 75%. Pada siklus III tercapai persentase sebesar 83%. Persentase ini dikatakan berhasil dikarenakan telah melebihi kriteria minimal yaitu 75%. Sehingga dapat dikatakan hipotesis yang berbunyi kegiatan membaca permulaan menggunakan media komik strip inovatif dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak kelompok B TK Mardi Putra Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung dapat diterima.
Kesimpulan
Persentase ketuntasan belajar kemampuan membaca permulaan menggunakan media komik strip mengalami peningkatan dari pra tindakan sampai pada siklus III. Persentase ketuntasan belajar anak dari pra tindakan sebesar 16% kemudian meningkat menjadi 50% pada siklus I. Meningkat lagi menjadi 72% pada siklus II, dan masih meningkat lagi menjadi 83% pada siklus III. Dari temuan-temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran membaca permulaan menggunakan media komik strip inovatif terbukti dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak-anak Kelompok B TK Mardi Putra Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung.
Guru Kelas TK Dharma Wanita Moyoketen
Menyukai ini:
Suka Memuat...