SERIKATNEWS.COM – Lopis atau dikenal juga lupis merupakan salah satu jajan tradisional yang tersebar di daratan Jawa. Jajan ini mulanya berbentuk segitiga. Namun seiring berjalannya waktu, lopis mengalami perubahan bentuk menjadi seperti lontong yang kemudian diiris-iris sebelum disantap.
Jajan ini biasanya disajikan saat acara adat atau hajatan. Selain itu, lopis juga dijual di pasar-pasar tradisional. Cita rasanya yang manis dan bahannya yang sederhana membuat lopis disenangi banyak orang.
Lopis terbuat dari beras ketan yang dibungkus dalam daun pisang, kemudian direbus selama beberapa saat. Setelah matang, lopis dinikmati dengan kuah atau saus yang terbuat dari gula merah, serta taburan parutan kelapa di atasnya.
Tak hanya sebatas jajan, di daerah Krapyak, Pekalongan, lopis menjadi makanan untuk merayakan tanggal 8 Syawal. Lopis yang dibuat untuk perayaan ini berukuran raksasa, yakni tinggi 2 m dengan diameter 1,5 m dan berat 225 kg.
Dikutip dari Nu.or.id, Sabtu (02/09/2023) tradisi ini mulanya dipelopori oleh KH Abdullah Sirodj, ulama Krapyak keturunan Tumenggung Bahurekso. Konon, tradisi ini sudah dilakukan masyarakat setempat sejak tahun 1885.
Pemilihan lopis sebagai makanan untuk merayakan Syawalan ada maknanya. Beras ketan sebagai bahan dasar yang sifatnya lengket menjadi simbol persatuan. Sedangkan warna beras yang putih menunjukkan kesucian Idulfitri.
Artinya, diharapkan masyarakat punya empati terhadap sesama dan kerekatan satu sama lain terus terjaga. Sedangkan bungkus lopis, yaitu daun pisang menjadi lambang kemakmuran dan ikat atau tali pembungkus menjadi simbol ikatan silaturahmi antar manusia.
Kontributor Serikat News Daerah Istimewa Yogyakarta
Menyukai ini:
Suka Memuat...