Connect with us

Hukum

MA Meminta Jokowi Cabut Aturan Kawasan Lindung jadi Perkebunan

Published

on

Foto: Liputan6

SERIKATNEWS.COM – Mahkamah Agung (MA) meminta Presiden Jokowi cabut aturan Hutan Lindung Bisa Jadi Perkebunan. Peraturan yang dimaksud merupakan PP. Nomor 104 Tahun 2015 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan, khususnya Pasal 51 ayat (2).

Permintaan tersebut merupakan hasil dari putusan MA atas gugatan judicial review yang diajukan oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi).

Walhi menyambut baik atas putusan MA. Meskipun menurut Manajer Kajian Eksekutif Nasional Walhi, Boy Even Sembiring, pihaknya masih menungu salinan putusan resmi dari MA.

“Untuk petikan putusan kami belum dapat,” ungkap Boy.

Dikutip dari Media Indonesia, Rabu (1/1/2020), Manajer Kajian Eksekutif Nasional Walhi tersebut mengatakan, seharusnya apabila merujuk pada tuntutan permohonan yang disampaikan, Polri bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menertibkan dan melakukan penegakan hukum kepada seluruh perizinan perkebunan khusus kelapa sawit yang berada di kawasan hutan dengan fungsi lindung dan konservasi.

“Tuntutan dari petitum utama kami satu, apabila info kabul dari website MA, maka Pasal 51 ayat (2) PP 104 batal demi hukum dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat,” ujar Boy.

Menurut Boy, pada masa pemerintahan SBY, peraturan itu diterbitkan sebagai dasar untuk melegalkan keterlanjuran perizinan dan aktivitas perkebunan di kawasan hutan dengan fungsi produksi.

Sedangkan, pada era pemerintahan Jokowi, keterlanjuran perizinan dan aktivitas perkebunan di kawasan hutan diperluas hingga kawasan hutan fungsi konservasi dan lindung. Sementara pada saat terbitnya PP. pada tahun 2015, situasi Indonesia sedang meghadapi persolan Karhutla.

“Semangat melawan karhutla dalam Inpres 11/ 2015 tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan yang diterbitkan pada 24 Oktober 2015 seolah runtuh dengan adanya PP ini. Langkah awal Kebijakan bermuka dua Pemerintah Jokowi dimulai,” papar Boy.

Advertisement

Popular